Minggu, 05 Januari 2020

secuil pesan

Aku kumpulkan mereka
Mereka yang tidak ada hubungan darah denganmu bahkan denganku namun sedekat nadi
Aku ajak mereka mengenal kalian dan aku ajak kalian mengenal mereka
Mereka yang akan menggantikan posisiku
Posisi sebagai anak kalian saat aku tidak ada
Ayah, Ibu lihatlah mereka yang datang kerumah adalah anak kalian

Rabu, 20 November 2019

Jangan Pergi!

Ternyata ceritaku belum berhenti. Baru saja aku terhenti di depan pintu yang tidak asing untukku setelah melewati lorong gelap. Pintu yang ketika orang keluar dia menjadi orang yang jauh lebih baik sebelum memasukinya. Pintu yang ketika kita geser dapat melihat kedamaian yang tidak pernah dibuat-buat. Pintu yang setiap harinya aku masuki tanpa hambatan. Tapi, kini aku hanya dapat berdiri didepannya. Memandang tanpa bisa membuka apalagi menyentuh. Sempat ku teteskan air mataku sebelum aku melihatnya duduk dikursi panjang yang tepat berada disebelah pintu tersebut. 
"Ayo pulang." ucapnya yang membuat matau kini beralih menatapnya
"Bentar." ucapku datar
"Ayo pulang." ucapnya yang kini dengan berdiri dan siap menggandengku
"Aku mau ke atas dulu."
"Pulang sekarang." ucapnya lagi tanpa mau mendengarkan perkataanku
"Tunggu, aku keatas dulu." 
Tanpa menunggu balasan darinya, segera aku berlari keatas.
Tangga yang setiap harinya membawaku pada mimpi - mimpi yang luar biasa kini tampak biasa. Dengan cepat ku pelankan langkah kakiku ketika menapaki lantai 2. Dengan senyum ku berjalan menuju sebuah lorong. Berharap apa yang biasa aku temui, orang - orang yang luar biasa tersenyum dan menyapaku dengan ramah berada di sana. Namun semua diluar dugaanku. Sebuah lorong yang selalu ramai dengan beribu mimpi kini sunyi, kotor dan gelap. Semua sirnah dan hilang. Aku sendiri, berdiri menatap kedepan penuh dengan pilu. Air mataku tidak dapat terbendung lagi, semua mengalir deras tanpa bisa aku tahan. 
Tanganku sudah berada digenggamannya. Perlahan kubuka mata dan berkata "Aku mau pulang, sekarang." 
Tanpa kata hanya dengan senyuman dia menggandengku, berbalik dan berjalan kesebuah cahaya yang membuat lukaku semakin terasa sakit. Tanpa pernah melepas genggaman itu dan justru semakin erat ketika aku merasakan kesakitan memasuki cahaya tersebut.

"Aku disini, aku temani kamu, aku tidak akan pergi."
Samar ku dengar suara itu yang akhirnya membuat mataku terbuka. Aku masih melihat cahaya itu tapi sudah tidak membuatku sakit, bahkan cahaya itu semakin mengecil. Perlahan ku sadari itu cahaya lampu dan aku terbaring disebuah ranjang.
Aku melihatnya masih menggenggam tanganku, masih juga dengan senyuman. Tapi, wajahnya sudah sangat terlihat lelah.
Suara mesin itu, mesin yang sering aku dengar disenetron - senetron televisi ataupun layar film ketika seting tempat adegan itu disebuah rumah sakit kini terdengar jelas diatasku.
"Jangan pergi lagi, nanti siapa yang nemenin aku? Kalau aku sedang berantakan aku harus beres - beres untuk siapa? Aku harus marah dan ngomel ke siapa? Ga ada lagi yang bisa buat aku kesel dengan tingkah - tingkah konyol. Janji jangan pergi lagi ya?" 
Aku ingin sekali berkata dan menggerakkan tanganku kewajahnya, mengusap air yang mengalir dari matanya. Tapi, yang terjadi aku hanya dapat diam seribu bahasa dan justru tangannyalah yang mengusap air yang kini membasahi pipiku.

Rabu, 26 Desember 2018

untuk kamu


jika kesibukanku membuatmu jenuh dan kamu memilih mencari hiburan dengan mereka – mereka yang kamu yakini pantas membuatmu bahagia. maka, teruskanlah.

jika kamu merasa aku membosankan karena hanya diam dan sepatah kata yang ku keluarkan dan kamu lebih memilih mereka – mereka yang menurutmu mengasikkan untuk kamu ajak bicara. maka, bertahanlah dengan mereka.

tapi, jika tiba saatnya kamu tersadar bahwa aku yang mampu memahamimu dan kamu yakini yang terbaik untukmu. maka, maaf kamu sudah terlambat. 

aku sudah pergi dengan segala rasa yang aku tinggalkan untukmu. 
kini semua rasaku padamu sudah benar – benar mati.

selamat mencari jalan yang lain.

Senin, 05 Februari 2018

Tanpa syarat

Mungkin ini cara Tuhan untuk kita. Daripada kita bingung harus memilih yang mana. Tuhan telah menentukan jawaban untuk kita. Dia memisahkan kita di bumi ini.

Jumat, 02 Februari 2018

Memang aku yang salah

Sakit yang aku rasakan bukan karena kamu. Tapi karena diriku sendiri.

Kamu benar aku harus pergi darimu tapi yang aku lakukan tetap disini menunggumu hingga hati ini tak berwujud hati lagi.

Luka ini sudah terlalu besar hingga tidak dapat ditutup lagi.

Kamu sudah pergi jauh, tapi aku masih tertatih.

Rabu, 31 Januari 2018

Pelangi, senja dan luka

Seharusnya ini pagi yang penuh pelangi.
Tapi kamu membuatnya sendu sehingga menjadi kelabu.
kamu berikan senja yang bersahaja hingga aku lupa sedang terluka.
Namun setelah itu hujan dengan sangat derasnya membasahi setiap sudut kenangan yang semakin terasa bahwa hati ini penuh luka.

Jumat, 19 Januari 2018

20/365 hari tahun 2018

Sebenarnya tidak sulit dan berat untuk mengaku cinta
Hanya saja ketakutan lebih besar jika kamu tidak ada rasa
Mungkin menurut sebagian orang itu akan lega
Tapi untukku itu akan membuat kecewa