Ternyata ceritaku belum berhenti. Baru saja aku terhenti di depan pintu yang tidak asing untukku setelah melewati lorong gelap. Pintu yang ketika orang keluar dia menjadi orang yang jauh lebih baik sebelum memasukinya. Pintu yang ketika kita geser dapat melihat kedamaian yang tidak pernah dibuat-buat. Pintu yang setiap harinya aku masuki tanpa hambatan. Tapi, kini aku hanya dapat berdiri didepannya. Memandang tanpa bisa membuka apalagi menyentuh. Sempat ku teteskan air mataku sebelum aku melihatnya duduk dikursi panjang yang tepat berada disebelah pintu tersebut.
"Ayo pulang." ucapnya yang membuat matau kini beralih menatapnya
"Bentar." ucapku datar
"Ayo pulang." ucapnya yang kini dengan berdiri dan siap menggandengku
"Aku mau ke atas dulu."
"Pulang sekarang." ucapnya lagi tanpa mau mendengarkan perkataanku
"Tunggu, aku keatas dulu."
Tanpa menunggu balasan darinya, segera aku berlari keatas.
Tangga yang setiap harinya membawaku pada mimpi - mimpi yang luar biasa kini tampak biasa. Dengan cepat ku pelankan langkah kakiku ketika menapaki lantai 2. Dengan senyum ku berjalan menuju sebuah lorong. Berharap apa yang biasa aku temui, orang - orang yang luar biasa tersenyum dan menyapaku dengan ramah berada di sana. Namun semua diluar dugaanku. Sebuah lorong yang selalu ramai dengan beribu mimpi kini sunyi, kotor dan gelap. Semua sirnah dan hilang. Aku sendiri, berdiri menatap kedepan penuh dengan pilu. Air mataku tidak dapat terbendung lagi, semua mengalir deras tanpa bisa aku tahan.
Tanganku sudah berada digenggamannya. Perlahan kubuka mata dan berkata "Aku mau pulang, sekarang."
Tanpa kata hanya dengan senyuman dia menggandengku, berbalik dan berjalan kesebuah cahaya yang membuat lukaku semakin terasa sakit. Tanpa pernah melepas genggaman itu dan justru semakin erat ketika aku merasakan kesakitan memasuki cahaya tersebut.
"Aku disini, aku temani kamu, aku tidak akan pergi."
Samar ku dengar suara itu yang akhirnya membuat mataku terbuka. Aku masih melihat cahaya itu tapi sudah tidak membuatku sakit, bahkan cahaya itu semakin mengecil. Perlahan ku sadari itu cahaya lampu dan aku terbaring disebuah ranjang.
Aku melihatnya masih menggenggam tanganku, masih juga dengan senyuman. Tapi, wajahnya sudah sangat terlihat lelah.
Suara mesin itu, mesin yang sering aku dengar disenetron - senetron televisi ataupun layar film ketika seting tempat adegan itu disebuah rumah sakit kini terdengar jelas diatasku.
"Jangan pergi lagi, nanti siapa yang nemenin aku? Kalau aku sedang berantakan aku harus beres - beres untuk siapa? Aku harus marah dan ngomel ke siapa? Ga ada lagi yang bisa buat aku kesel dengan tingkah - tingkah konyol. Janji jangan pergi lagi ya?"
Aku ingin sekali berkata dan menggerakkan tanganku kewajahnya, mengusap air yang mengalir dari matanya. Tapi, yang terjadi aku hanya dapat diam seribu bahasa dan justru tangannyalah yang mengusap air yang kini membasahi pipiku.
