Kata orang cinta itu bisa datang dimana saja, kapan
saja, ga perduli dia siapa, apa status orang itu dan berapa umurnya. Ya memang
dan ini yang sedang Idah rasakan jatuh cinta pada seorang cowok saat bertemu
didalam Bus kota. Seperti biasa Indah berangkat kesekolah menggunakan angkutan
umum kota, sudah hampir 2 tahun dia menggunakan angkutan umum itu untuk
berangkat ke sekolah tak ada sesuatu yang spesial karena menurutnya semua bisa
– bisa saja. panas, penat belum lagi kalau penumpangnya penuh dia harus rela untuk berdiri. Namun ada yang
berbeda di hari ini bukan karena penumpangnya lumayan banyak dan dia berdiri
tapi penumpang yang masuk ke dalam Bus dan penumpang itu berdiri di depan Indah. “siapa
dia ? kenapa selama ini aku tak pernah melihat dia ?”
Sejak
saat itu di setiap berangkat sekolah Indah selalu bertemu dengan penumpang itu.
Ingin rasanya Indah mengajak kenalan namun teras enggan. Hingga suatu hari
penumpang itu menghamipirinya dan duduk di sampingnya. “hay namaku Jodi.”
Sambil mengulurkan tangan “namaku Indah.” Entah apa yang dirasakan Indah namun
dia sangatlah senang saat itu walau hanya sebatas kenalan karena dia harus
cepat – cepat turun bus suadah sampai di depan sekolah Indah.
Hari
berganti hari, minggu berganti minggu kini mereka sudah semakin akrab dan
bahkan sering janjian untuk keluar hanya sekedar mencari angin. Begitu banyak
cerita yang sudah mereka tuangkan stau sama lain. Hingga pada suatu mala tiba
dimana Jodi mencurahkan isi hati kepada Indah. “Indah .. kamu tau ga ? aku udah
cukup lama menumpangi Bus itu bahkan sebelum kamu menumpanginya. Awal kamu
masuk ke dalam bus itu aku merasa hal yang aneh terjadi pada perasaanku, kata
orang aku sedang jatuh cinta, namun aku takut untuk mengatakan padamu pada saat
itu.” “kanapa kamu harus takut ?” “aku merasa takut saja entah kenapa.” “kenapa
kamu ga mula untuk mengajakku kenalan kalau kamu sudah melihatku saat itu ?”
“aku takut kamu ga bisa menerima keadaanku.” “keadaanmu ? hah ga mungkinlah
buktinya sekarang aku ada disini ngobrol sama kamu kita habiskan waktu seharian
bersama dan asal kamu tau aku juga mencintaimu.” “ini yang aku takutkan,
perasaanmu sama sepertiku.” “kamu thu aneh, kenapa kamu harus takut ada cewek
mencintaimu ? harusnya kamu senang karena aku juga mencintaimu.” “suatu saat
kamu akan mengerti kenapa aku takut ada orang yang mencintaiku” “seharusnya
kamu ga perlu mengungkapkan ini semua kalau hanya membuatku seperti ini aku
pikir kamu orangnya baik tapi ternyata. Seharusnya aku ga pernah mau kenal sama
kamu. Aku benci kamu.” Tangis Indah pecah dengan kekecewaan yang ada didalam
hatinya dan kini ia berlari meninggalkan Jodi dengan segala penyesalannya.
Sejak
saat pengungkapan itu kini tak pernah lagi Indah melihat Jodi ada di dalam Bus
itu dan tak pernah lagi Indah mau memikirkan laki – laki yang telah menyakiti
hatinya itu. Hingga pada suatu hari iya melihat bendera putih terpasang di gang
dimana Jodi selalu menunggu Bus itu tapi sama sekali Ia menghiraukan bendera
itu.
Sudah
hampir 2 bulan ia tak melihat Jordi kini kekawatiran datang dalam hati Indah
walaupun dia masih sangat kecewa dengan apa yang keluar dari mulut Jodi namun
dia masih menyimpan rasa dan akhirnya dia memutuskan untuk turun dari bis tepat
di depan gang dimana Jodi biasa menunggu Bus itu. Kaki Indah berjalan dengan
ragu namun kekawatirannya itu yang membuat Indah melanjutkan langkah kakinya
hingga Ia menemukan sebuah warung yang mungkin bisa ia tanya dimana alamat
rumah Jodi. “permisi.” “ia mbak mau beli apa ?” “maaf Bu saya tidak mau beli
saya hanya mau tanya alamat, apa Ibu tau alamat rumah Jodi ?” “Jodi siapa ya
mbak ?” “Jodi yang biasa kesekolah nunggu Bus di depan gang itu.” “ouw Jodi
anaknya Bu Emil ?” “wah kurang tau juga nama orang tuanya Bu.” “iya yang biasa
nunggu Bus di depan gang itu Jodi anaknya Bu Emil, rumahnya yang cat warna
kuning itu mbak.” “makasih ya Bu.” “Iya mbak sama – sama.”
Langkah
kaki Indahpun berjalan menuu kerumah yang bercat kuning itu, dipencetnya bell
yang menempel di tembok, tak lama keluar sosok wanita setengah baya dengan
wajah pucat. “ada yang bisa saya bantu mbak ?” “iya Bu mau tanya apa betul di
sini rumahnya Jodi ?” tak ada jawaban dari wanita itu dia hanya menatap wajah
Indah dan sedikit ada genangan bening di matanya. “maaf Bu, Ibu ga papa ?”
“mbak temannya Jodi ?” “iya Bu, benra ini rumahnya Jodi ?” “mari masuk dulu
mbak.” Indahpun masuk dan duduk “mau minum apa mbak ?” “apa aja Bu.” “tunggu
sebentar ya, saya buatkan minum dulu.” “iya makasih Bu.” Kini mata Indah
tertuju pada foto yang terpajang di dinding dan kini iya benar – benar yakin
kalau memang benar ini rumah Jodi karena iya melihat Jodi ada di dalam foto
itu. “Namun kemana sekarang Jodi ?”
ucap Indah dalam hati. “ini mbak diminum dulu.” “iya makasih Bu.” “sudah berapa
lama kenal sama Jodi ?” baru beberapa bulan yang lalu, sekarang Jodinya kemana
ya Bu ?” bulir putih kini membasahi pipi wanita setengah baya itu, membuat
Indah semakin bingung dan kawatir. “Jodi sudah hampir 2 bulan ini tidak tinggal
di rumah ini mbak.” “lalu dia tinggal dimana Bu ?” “dia tinggal di rumah yang
jauh lebih tenang dan nyaman.” “maksudnya Ibu ?” “dia sudah meninggal mbak.”
Betapa syoknya Indah saat mendengar perkataan itu dan bulir – bulir bening itu
mengalir di pipi lembut Indah tak kuasa iya menahan kesedihan. Dengan sekuat
tenga iya beranikan untuk menanyakan kenapa semua ini bisa terjadi. “kalau
boleh tau kenpa Jodi bisa meninggal secepat ini Bu ?” “iya mengalami sakit
kanker otak.” Kesedihan mereka semakin pecah kini tak bisa di tahan lagi mereka
saling berpeluk dan menangis.
“kini
aku tau kenapa kamu takut ada orang yang mencintaimu.” Ucap Indah di hadapan
nisan Jodi. Saat itu kini Indah hanya bisa mengenang Jodi di dalam Bus dimana
mereka bertemu, selalu iya bayangkan betapa senganya saat itu saat dimana
mereka bisa bercanda dan tertawa dan kini semua hanya kenangan.

