Rabu, 01 Januari 2014

Bus Kenangan

          




          Kata orang cinta itu bisa datang dimana saja, kapan saja, ga perduli dia siapa, apa status orang itu dan berapa umurnya. Ya memang dan ini yang sedang Idah rasakan jatuh cinta pada seorang cowok saat bertemu didalam Bus kota. Seperti biasa Indah berangkat kesekolah menggunakan angkutan umum kota, sudah hampir 2 tahun dia menggunakan angkutan umum itu untuk berangkat ke sekolah tak ada sesuatu yang spesial karena menurutnya semua bisa – bisa saja. panas, penat belum lagi kalau penumpangnya penuh dia  harus rela untuk berdiri. Namun ada yang berbeda di hari ini bukan karena penumpangnya lumayan banyak dan dia berdiri tapi penumpang yang masuk ke dalam Bus dan penumpang itu  berdiri di depan Indah.  “siapa dia ? kenapa selama ini aku tak pernah melihat dia ?”
            Sejak saat itu di setiap berangkat sekolah Indah selalu bertemu dengan penumpang itu. Ingin rasanya Indah mengajak kenalan namun teras enggan. Hingga suatu hari penumpang itu menghamipirinya dan duduk di sampingnya. “hay namaku Jodi.” Sambil mengulurkan tangan “namaku Indah.” Entah apa yang dirasakan Indah namun dia sangatlah senang saat itu walau hanya sebatas kenalan karena dia harus cepat – cepat turun bus suadah sampai di depan sekolah Indah.
            Hari berganti hari, minggu berganti minggu kini mereka sudah semakin akrab dan bahkan sering janjian untuk keluar hanya sekedar mencari angin. Begitu banyak cerita yang sudah mereka tuangkan stau sama lain. Hingga pada suatu mala tiba dimana Jodi mencurahkan isi hati kepada Indah. “Indah .. kamu tau ga ? aku udah cukup lama menumpangi Bus itu bahkan sebelum kamu menumpanginya. Awal kamu masuk ke dalam bus itu aku merasa hal yang aneh terjadi pada perasaanku, kata orang aku sedang jatuh cinta, namun aku takut untuk mengatakan padamu pada saat itu.” “kanapa kamu harus takut ?” “aku merasa takut saja entah kenapa.” “kenapa kamu ga mula untuk mengajakku kenalan kalau kamu sudah melihatku saat itu ?” “aku takut kamu ga bisa menerima keadaanku.” “keadaanmu ? hah ga mungkinlah buktinya sekarang aku ada disini ngobrol sama kamu kita habiskan waktu seharian bersama dan asal kamu tau aku juga mencintaimu.” “ini yang aku takutkan, perasaanmu sama sepertiku.” “kamu thu aneh, kenapa kamu harus takut ada cewek mencintaimu ? harusnya kamu senang karena aku juga mencintaimu.” “suatu saat kamu akan mengerti kenapa aku takut ada orang yang mencintaiku” “seharusnya kamu ga perlu mengungkapkan ini semua kalau hanya membuatku seperti ini aku pikir kamu orangnya baik tapi ternyata. Seharusnya aku ga pernah mau kenal sama kamu. Aku benci kamu.” Tangis Indah pecah dengan kekecewaan yang ada didalam hatinya dan kini ia berlari meninggalkan Jodi dengan segala penyesalannya.
            Sejak saat pengungkapan itu kini tak pernah lagi Indah melihat Jodi ada di dalam Bus itu dan tak pernah lagi Indah mau memikirkan laki – laki yang telah menyakiti hatinya itu. Hingga pada suatu hari iya melihat bendera putih terpasang di gang dimana Jodi selalu menunggu Bus itu tapi sama sekali Ia menghiraukan bendera itu.
            Sudah hampir 2 bulan ia tak melihat Jordi kini kekawatiran datang dalam hati Indah walaupun dia masih sangat kecewa dengan apa yang keluar dari mulut Jodi namun dia masih menyimpan rasa dan akhirnya dia memutuskan untuk turun dari bis tepat di depan gang dimana Jodi biasa menunggu Bus itu. Kaki Indah berjalan dengan ragu namun kekawatirannya itu yang membuat Indah melanjutkan langkah kakinya hingga Ia menemukan sebuah warung yang mungkin bisa ia tanya dimana alamat rumah Jodi. “permisi.” “ia mbak mau beli apa ?” “maaf Bu saya tidak mau beli saya hanya mau tanya alamat, apa Ibu tau alamat rumah Jodi ?” “Jodi siapa ya mbak ?” “Jodi yang biasa kesekolah nunggu Bus di depan gang itu.” “ouw Jodi anaknya Bu Emil ?” “wah kurang tau juga nama orang tuanya Bu.” “iya yang biasa nunggu Bus di depan gang itu Jodi anaknya Bu Emil, rumahnya yang cat warna kuning itu mbak.” “makasih ya Bu.” “Iya mbak sama – sama.”
            Langkah kaki Indahpun berjalan menuu kerumah yang bercat kuning itu, dipencetnya bell yang menempel di tembok, tak lama keluar sosok wanita setengah baya dengan wajah pucat. “ada yang bisa saya bantu mbak ?” “iya Bu mau tanya apa betul di sini rumahnya Jodi ?” tak ada jawaban dari wanita itu dia hanya menatap wajah Indah dan sedikit ada genangan bening di matanya. “maaf Bu, Ibu ga papa ?” “mbak temannya Jodi ?” “iya Bu, benra ini rumahnya Jodi ?” “mari masuk dulu mbak.” Indahpun masuk dan duduk “mau minum apa mbak ?” “apa aja Bu.” “tunggu sebentar ya, saya buatkan minum dulu.” “iya makasih Bu.” Kini mata Indah tertuju pada foto yang terpajang di dinding dan kini iya benar – benar yakin kalau memang benar ini rumah Jodi karena iya melihat Jodi ada di dalam foto itu. “Namun kemana sekarang Jodi ?” ucap Indah dalam hati. “ini mbak diminum dulu.” “iya makasih Bu.” “sudah berapa lama kenal sama Jodi ?” baru beberapa bulan yang lalu, sekarang Jodinya kemana ya Bu ?” bulir putih kini membasahi pipi wanita setengah baya itu, membuat Indah semakin bingung dan kawatir. “Jodi sudah hampir 2 bulan ini tidak tinggal di rumah ini mbak.” “lalu dia tinggal dimana Bu ?” “dia tinggal di rumah yang jauh lebih tenang dan nyaman.” “maksudnya Ibu ?” “dia sudah meninggal mbak.” Betapa syoknya Indah saat mendengar perkataan itu dan bulir – bulir bening itu mengalir di pipi lembut Indah tak kuasa iya menahan kesedihan. Dengan sekuat tenga iya beranikan untuk menanyakan kenapa semua ini bisa terjadi. “kalau boleh tau kenpa Jodi bisa meninggal secepat ini Bu ?” “iya mengalami sakit kanker otak.” Kesedihan mereka semakin pecah kini tak bisa di tahan lagi mereka saling berpeluk dan menangis.
            “kini aku tau kenapa kamu takut ada orang yang mencintaimu.” Ucap Indah di hadapan nisan Jodi. Saat itu kini Indah hanya bisa mengenang Jodi di dalam Bus dimana mereka bertemu, selalu iya bayangkan betapa senganya saat itu saat dimana mereka bisa bercanda dan tertawa dan kini semua hanya kenangan.