Rabu, 04 Juni 2014
takkan pernah terganti
"aku belum bisa membuka hatiku untuk orang lain."
"kenapa ?"
"karena sampai kapanpun ga akan pernah bisa menggatikan seseorang itu di dalam hatiku, walaupaun banyak yang datang mencoba untuk membuka pintu hati ini, tapi ga ada yang bisa. hanya dia, dia yang selalu ada dalam hati ini."
"mantan terindah ?"
"bukan."
"lalu ?"
"dia bukan mantan pacarku. dia hanyalah orang yang pernah aku jumpai dalam hidupku. aku selalu memandangnya walaupun hanya fotonya yang aku pandang, dia seorang yang teak pernah lelah dalam menjalani hidupnya walaupun banyak sekali masalah yang dia hadapi. selalu memberikan senyuman terindah untuk semua orang yang dia jumpai. tapi sayang aku ga pernah bisa mendapatkan senyuman indah itu."
"kenapa ?"
"karena dia tak pernah melihatku."
"kok bisa ?"
"aku tau siapa dia, aku tau bagaimana kehidupannya. tapi dia tak tau siapa akubahkan hanya utuk melihatku saja dia tak pernah."
"jadi kamu mencintai orang yang sama sekali ga kenal sama kamu ?"
"yups. tapi sekarang perlahan aku mulai melihat senyum itu untukku senyu yang sama saat dia senyum pada orang - orang disekitarnnya. aku berharapnya suatu saat orang itu dapat melihatku sebagai orang yang mencintai, walau aku juga ga tau itu kapan."
"aneh, dia ga tau kamu tapi kamu tetap mencinta dia sampai ga ada yang bisa menggantikannya dalam hatimu."
"andai saja aku ga bertemu dengan dia mungkin ga akan pernah ada rasa ini. menyiksa memang, tapi aku rela kalau cintaku dia yag miliki."
"bego ya dia tapi beruntung juga. dicintai dengan tulus dan ga akan pernah teganti."
malam ini aku menceritakan seseorang yang ada dalam hatiku di depan menara eiffel dan dia ga akan pernah tau kalau orang itu adalah dia.
Sabtu, 22 Februari 2014
TERLAMBAT
Ini
kisahku dengan kameraku. Perkenalkan namaku Anindya Dita biasa dipanggil Anin,
aku seorang anak berumur 15 tahun kini aku duduk di kelas 1 SMA satu step baru
dalam hidupku meinggalkan putih biru berganti menjadi putih abu – abu. Aku
hobby photography, sewaktu SMP setiap pulang sekolah aku ga pernah langsung
pulang kerumah aku selalu menghabiskan waktu untuk hunting foto keliling kota
Yogyakarta terkadang aku datang ketempat yang pernah aku datangi dan itu tidak
membuatku untuk langsung pindah ke tempat lain karena aku yakin di setiap
harinya tempat –tempat itu akan selalu
berubah walau hanya perubahan kecil. Dan kini aku siap membuka galery yang baru
di masa SMA.
Masa
– masa di SMA sangat aku nikmati mulai dari MOS hingga kini sudah hampir 6
bulan aku berada di sekolah yang baru. Ku nikmati hari – hari itu dengan
sahabat setiaku yang selalu aku bawa dia adalah
kamera kesayanganku. Seperti biasa setiap pulang sekolah aku selalu
hunting foto tak terkecuali hari ini, namun ada yang menarik mata lensa
kameraku saat aku keluar dari gerbang sekolah “tawuran pelajar” entah kenapa
aku ingin memotret kejadian itu begitu banyak jepretan yang telah aku ambil.
“Nin, awas minggir !
kamu thu gila ya ? udah tau di depan kamu tawuran malah difoto segala.” Ucap
Dion sambil menarik tanganku mundur masuk kedalam sekolah.
“kenapa sih emangnya,
Yon ? toh aku ga kenapa – kenapa.”
“emang ga kenapa –
kenapa tapi yang ada didalam kameramu itu bisa jadi barang bukti siapa yang
mukulin orang itu.” Ucap Dion sambil menujuk seorang cowok yang telah babak
belur dan di bawa ke UKS sekolah.
“ya bagus dong aku bisa
nolong orang itu dengan menunjukan foto ini ke polisi.”
“itu yang bahaya.”
“kenapa ?” tanyaku
dengan muka polos.
“Anindya Dita kalau
kamu tunjukin foto ini ke polisi bisa – bisa kamu yang babak belur di hajar
sama orang yang mukulin thu cowok.”
“emang iya ya ?”
“udah deh terserah kamu yang jelas aku udah
peringatin kamu kalau kamu mau babak belur juga sih terserah.”
Entah
apa yang aku pikirkan mendengar kata – kata Dion aku menjadi ngeri dan kini aku
mengikuti dia menuju keruang UKS ketempat dimana cowok yang babak belur itu
dibawa. Sesampainya di depan UKS sudah banyak orang yang berada di sana, bukan
orang – orang itu ingin membantu mengobati luka – luka cowok itu mereka hanya
sekedar ingin tau dengan keadaan cowok itu mungkin juga kepo kenapa bisa semua
ini bisa terjadi. Sebenarnya aku ga tau kenapa aku mengikuti Dion tapi hasil
dari aku mengikuti dia aku mempunyai obyek foto yang bisa aku jepret dengan
kameraku ini kerumunan anak – anak di depan UKS, tak terasa aku tiba persisi di
depan pintu UKS saat sedang mengarahkan lensa tiba – tiba cowok itu melihat dan
“oh Tuhan mata itu .. mata itu mirip
dengan mata .....”
“eh minggir dong, Nin, jangan berdiri di depan pintu, ini buat
lewat.”
“aduh .. sorry Ajeng.”
Sesampainya
di rumah ku buka kamera dan ku lihat semua foto.
“inikan cowok yang tadi
di UKS. Mata itu mirip dengan mata ...” segera aku berlari menuju ke sebuah
kamar yang di dalamnya tergeletak seorang pria tak berdaya dengan banyak kabel
– kabel medis yang terpasang di badannya.
“hay kak Andre. Apa kabar
kak ? kapan kakak bangun ? kapan kakak bisa main bareng sama aku ? kapan kita
bisa hunting foto bareng lagi kak ? aku kangen sama kakak, ga ada lagi yang
bisa bikin aku ketawa, ga ada lagi yang bisa menghiburku kalau lagi sedih dan
ga ada lagi yang nyium keningku sebelum aku tidur. tapi aku yakin, kakak masih
bisa mendengar semua ceritaku walau ga akan ada komentar dari mulut kakak,
mungkin itu yang bisa mengobati semua rasa sedih dan kangenku. Kak, hari ini aku
bertemu dengan seorang cowok, bukan karena cowok itu keren atau karena dia ada
di dalam kameraku tapi karena cowok itu mempunyai kemiripan dengan kakak. Mata
itu. Mata itu mirip dengan mata kakak mata yang penuh keteduhan dan ketulusan.
Entah kenapa sekarang aku jadi kepikiran dengan cowok itu kak .......” Belum
selesai aku menceritakan apa yang sedang aku rasakan, aku melihat butiran –
butiran bening mengalir keluar dari dalam matanya mangalir membasahi pipinya,
itulah yang membuat aku selalu yakin kalau kak Andre selalu mendengarkan apa
yang aku ceritakan dia selalu merespon dengan air mata yang akan selalu keluar
setiap aku bercerita. Air mata itu yang membuat aku merasa tak sendirian berada
di dunia ini setelah kepergian Papa dan Mama karena kecelakaan dan karena
kecelakaan itu juga yang membuat keadaan kak Andre seperti ini. Apa mungkin kalau aku ikut menghantar Papa
dan Mama ke bandara aku akan seperti kak Andre atau mungkin akan seperti Papa
dan Mama ? pertanyaan itulah yang selalau aku tanyakan setiap aku selesai
berbicara dengan kak Andre dan yang pasti itu aku tanyakan di dalam hati.
***
Seperti
biasa setiap istirahat aku selalu ke kantin sekolah dan pastinya selalu
ditemani Dion, Tasya dan Beni merekalah yang selama ini setia menjadi sahabatku
dan terkadang mereka menemaniku untuk hunting foto.
“eh kalian tau ga cowok
yang kemarin di bawa ke UKS ?”
“yang digebukin
kemarin, Sya ?”
“iya Yon, kamu tau ga
dia siapa ?”
“siapa emangnya ?”
“dia itu Abas, cowok paling pupoler di SMP aku
dulu dan dia mantanku.”
“hah ?!” ucapku dengan
Beni serempak.
“ih kenapa sih kalian
berdua ni ? kaget kok kompakkan. Kenapa kalian ga percaya ?”
“percaya kok, Sya. Secara kamukan cantik.”
“percaya kok, Sya. Secara kamukan cantik.”
“ah Beni jadi malu.”
Sejak
saat itu disetiap hari saat istirahat Tasya selalu membahas Abas, menceritakan
hubunganya dulu dengan dia, kelebihan cowok itu dan kekurangannya bahkan mantan
– mantan cowok itu dibahas juga sama Tasya. Awalnya aku ga tertarik dengan
cerita - ceritanya dan selalu berpura – pura cuek dengan ceritanya itu, namun
karena Tasya selalu menceritakan Abas dengan frekuensi yang sering dan detail,
aku menjadi tertarik untuk mencari tau tentang Abas dan yang pasti ga bertanya
dengan Tasya melainkan Twitter.
Dan
kini setiap pulang sekolah dan hunting foto aku selalu membuka Twitter melalui
laptop, dari situ aku tau bahwa cowok itu bernama panjang Abas Ananda, dia sama
denganku kelas satu SMA. Dari Avanya
itulah aku yakin bahwa dia yang ada didalam kameraku yang memiliki mata mirip
dengan kak Andre. Aku selalu mencari tau sedang apa dia dan apa yang dia
rasakan melalui tweet yang dia buat,
memandang setiap foto – foto yang terpos ke akunnya. Entah kenapa sekarang aku
selalu membayangkan wajahnya dan seakan tak bisa hilang dalam pikiranku.
“oh
Tuhan siapa cewek ini ? kenapa dia memanggilnya dengan sebutan sayang ? hah ! kenapa aku harus kaget dan kenapa
dengan perasaanku ini ? apa yang aku rasakan ? kenapa jantungku saakan berhenti
berdetak ? apa, apa aku cemburu ? cemburu ? berarti aku cinta sama dia ? ga, ga
mungkin. Pasti hanya sesaat. Tenang Nin, semuanya bakal kembali kekeadaan
semula.”
Sudah
hampir seminggu aku mengisi hari – hariku untuk hunting foto hingga larut malam
seperti hari ini ya hanya sekedar untuk menghilangkan rasa aneh yang melanda
perasaanku namun tetap saja tak bisa hilang. Selaluku coba untuk bisa tersenyum
dan tertawa namun saakan mulut ini tak mau dia ajak untuk tersenyum dan
tertawa. Pikiranku tak bisa lepas dengan bayang – bayang dia dengan cewek itu.
Aku selalu berjanji dengan diriku sendiri bahwa taakan lagi ku buka akun cowok
itu namun selalu saja aku mengingkarinya seaakan tangan ini sudah terseting
untuk mengetikan akun Abas. Dan setiap aku membuka akun itu aku selalu melihat
cewek itu muncul untuk menuliskan kata – kata penyemangat dan ucapan sayang.
“daripada bingung
dengan perasaan ini mending hunting foto lagi aja. tweet dulu kayaknya seru
juga.” “Otw alun – alun utara” setelah selesai aku langsung berangkat
menggunakan sepeda motor kesayanganku, sebenarnya baru saja aku sampai rumah
makan langsung mandi terus buka laptop, namun entah kenpa aku ingin hunting
foto lagi.
Sesampainya di alun – alun langsung saja ku arahkan
lensaku ke obyek – obyek yang ada di sekitarku entah penjual minunan, entah
orang jalan bahkan orang yang sedang duduk di trotoar. Sesaat kulupakaan apa
yang tadi aku rasakan. Setelah cukup lama lensa ini mengambil obyek aku
memutuskan untuk beristirahat dan membeli minuman. Saat sedang duduk dan minum
tak tau kenapa ingin rasanya aku membuka Twitter dan akhirnya ku putuskan untuk
membuka lewat handphone. Jari ini bergerak mengetik nama Abas Ananda. “hah ?! dia ada di alun – alun utara juga ?” ucapku
dalam hati saat aku melihat tweetnya satu menit yang lalu “di
sini ! di alun – alun utara ini kisah cinta kita berakhir karena
penghianatanmu.” “tunggu ! kisah cinta kita berakhir ? berarti dia putus
sama ceweknya ?” entah siapa yang mengerakkanku kini aku beranjak dari
tempat dudukku dan berkeliling alun – alun ,mencari di tengah kerumunan orang
untuk mencari dia, tapi apa yang aku dapatkan tak ada orang yang wajahnya sama
dengan Abas. “apa dia udah pulang ? tapi
statusnya baru saja.” Dengan perasaan kecewa akhirnya aku memutuskan
meninggalkan alun – alun untuk pulang kerumah.
“selamat malam kak
Andre. Maaf ya kak aku pulangnya terlalu malam. Kak, Abas putus sama pacarnya
entah aku harus sedih apa seneng yang pasti aku merasa lega kak, tapi sayang
tadi aku ga bisa ketemu sama dia padahal kita satu lokasi. Tapi gapapa yang
penting sekarang dia sendiri. Aku selalu seneng kalau kakak ngeluarin air mata
gini. Makasih ya kak udah bertahan untuk selalu menemaniku. Good night kak.” Ku
beranjak dari kursi yang aku duduki menuju kamar untuk tidur.
Hari ini hari minggu
hari dimana aku seharian menemani kak Andre. Ku buka jendela yang ada di kamar
kak Andre, selalu berharap kak Andre bisa terkena sinar matahari dan melihat
keindahan taman bunga yang ada di luar jendela. “bunga itu semakin hari semakin
indah mekar dengan penuh warna – warni. Terakhir aku dikasih bunga itu dikasih
sama kakak itupun waktu ulang tahunku yang ke 14 dan sekarang umurku 15 hampir
16. Bunga itu selalu aku simpan kak walau layu karena itu kado teristimewah
yang pernah aku dapat.” “Ngomong soal
ulang tahun hari ini tanggal ........” segera ku berlari menuju ketempat
kalander itu tergantung
“astaga hari ini kak Andre ulang tahun. Aduh kok bisa lupa gini sih ?”
tanpa berpikir panjang aku segera lari kekamar untuk ganti baju, selesai ganti
baju aku segera ke toko kue tak jauh dari rumah.
Setelah selesai
membeli cake aku langsung pulang tak seperti berangkat tadi aku berangkat denga
tergesa – gesa kini aku berjalan santai. Saat sedang belok di salah satu gang
tiba – tiba “ggguuuuubbbbbrrrrraaaakkkk ...”
aku terjatuh dan cake yang aku beli untuk kak Andre hancur.
“heh ! ati – ati dong kalau jalan liat nih cakenya hancurkan.” Ucapku dengan membereskan cake yang sudah berantakan
saat aku berdiri dan berniat untuk memarahi orang itu karena hanya diam saja
melihatku membereskan cake itu sendirian tanpa dia bantu, aku syok melihat
wajahnya.
“Abas ?”
“maaf aku ga sengaja, aku ganti deh cakenya.” Tanpa mendengarkan
perkataannya aku segera berlari.
“ya Tuhan, Abas. Itu
tadi Abas ? kenapa aku harus lari ? bukannya ini yang aku mau bertemu dengannya
? begoooo. Harusnya aku ngobrol sekarang sama dia. Adduuuhhhh !” ku masuki
kamar kak Andre dengan perasaan penuh kecewa.
“happy birthday ... happy birthday ... happy birthday ... happy
birthday brother ..” kunyanyikan lagu happy birthday dengan menyodorkan cake
yang telah hancur.
“kak, maafin Anin ya cakenya ancur, ga berbentuk. Bukan maksudku buat
ngrusakin cake ini tapi ada yang nabrak aku dan itu Abas, dia yang udah
ngrusakin cake ini.” ucapku dengan penuh ari mata yang mengalir mulus
melewati pipiku.
***
Udah hampir 3 bulan
sejak ulang tahun kak Andre dan kejadian aku di tabrak oleh Abas, aku masih
dalam penyesalan yang amat dalam. Menyesal karena tidak bisa memberikan kado
spesial untuk kak Andre dan menyesal karena saat bertemu Abas aku lari darinya.
Hari ini selesai aku
bercerita dengan kak Andre, aku memutuskan untuk menonton televisi. Tiba – tiba
bell rumah berbunyi, aku beranjak dari tempat dudukku menuju ke pintu dan
membukakan pintu itu.
“Sita ? tumben main ? ayo masuk.”
“ouw enggak Nin, Cuma mau ngasih ini.” Sita menyodorkan bunga dan
sebuah surat.
“hah ? ngapain ngasih bunga Ta ?”
“ini bukan dari aku tapi dari Abas.”
“Abas ?”
“iya, dia minta maaf karena bukan dia yang ngasih langsung tadinya dia
mau ngasih langsung tapi mendadak Mamanya telfon Papanya masuk rumah sakit.
Udah ya aku pulang dulu.”
“ouw ya makasih Ta.” Dengan penuh tanda tanya di dalam pikiranku kupandang bunga itu, bunga yang mirip dengan bunga kado ulang tahun dari kak Andre, yang masih ku simpan dan kini berubah menjadi warna coklat. Perlahan ku buka dan kubaca surat yang diberikan Abas.
“ouw ya makasih Ta.” Dengan penuh tanda tanya di dalam pikiranku kupandang bunga itu, bunga yang mirip dengan bunga kado ulang tahun dari kak Andre, yang masih ku simpan dan kini berubah menjadi warna coklat. Perlahan ku buka dan kubaca surat yang diberikan Abas.
Dear Anin, mungkin kamu bertanya –
tanya kenapa tiba – tiba aku mengirimkan surat dan bunga ini. Sejak pertama
kita bertemu di depan UKS sekolahanmu dan saat mata kita saling berpandangan
saat itu aku merasakan ada getaran lain yang melanda perasaanku. Sejak saat itu
aku mulai mencari tau tentang kamu melalui Tasya sahabatmu. Dan akhirnya aku
mendapatkan akun Twittermu, namun tak ada keberanianku untuk menfollow, entah
kenapa itu bisa terjadi , tapi setiap hari aku selalu membuka akun Twittermu
untuk sekedar tau apa yang kamu rasakan. Aku selalu mengikutimu setiap kamu metweet
untuk menuju suatu tempat, tapi ga pernah kita bisa bertemu. Hingga suatu saat
kita bertemu namun pertemuan itu membuatmu marah karena aku menjatuhkan cake
yang kamu beli untuk kakakmu. Inginku mengejarmu, namun tak kulihat kamu, emtah
kemana, aku sangat menyesal. Aku
berharap saat kita bertemu dulu kita bisa ngobrol atau aku mengganti cake yang
telah aku hanccurkan karena aku tau cake itu sangat berharga untuk kamu berikan kepada kakakmu yang sedang
terbaring tak berdaya akibat kecelakaan, aku tau semua itu dari Sita, sepupuku
yang ternyata tetanggamu. Setelah kamu baca surat ini aku janji, aku akan
follow twittermu dan aku harap kita bisa lebih dekat lagi.
Yang kini mencintaimu
Abas Ananda
Setelah selesai aku membaca surat dari Abas,
ku ambil bunga itu ku buka plastik
yang membungkus bunga dengan penuh rasa bahagia berniat memindahkan bunga itu
kedalam sebuah vase namun tiba – tiba jariku tertusuk duri dari bunga itu dan
darahnya menetes tepat diatas nama Abas Ananda,
“breaking news telah
terjadi keceakaan tunggal yang menewaskan seorang pria dan diketahui nama pria
itu Abas Ananda ..” ku lihat wajahmu dengan penuh darah dan pada saat itu hanya sesak tangis yang dapat aku ungkapakan
saat aku melihat kau di layar televisi dengan berita kecelakaan. Ku remas erat
surat darimu, sungguh ku tak percaya dengan apa yang ku lihat. Haruskah ku
benci semua jalan karena telah merenggut orang – orang yang ku sayang. Haruskah
aku memaki jalan itu ? Haruskah aku mengutuk jalan itu ? tak kusangka semua ini
bisa terjadi, ku bertemu denganmu saat kau dalam keadaan babak belur dan kini
ku berpisah denganmu dalam keadaan kau penuh luka tak bernyawa. Tak pernah ku
sangka kau memilki rasa sama seperti yang ku rasakan, namun kita tak akan
pernah bisa menyatukan rasa ini karena kau telah pergi untuk selamanya.
Ku berlari menuju kamar kak Andre dengan penuh air mata yang
masih membasahi pipiku dan saat ku buka pintu, aku melihat sorotan mata yang
penuh keteduhan dan ketulusan itu kini
sedang memandangku, memandang dengan
penuh kekawatiran, seakan berkata. “apa yang sedang terjadi padamu adikku ?
janganlah menangis, aku ada di sini, selalu disini untuk menjagamu, memelukmu
dan selalu membuatmu tersenyum.”
Minggu, 16 Februari 2014
DETAKAN
"maafin gue, gue
mencintai lu, gue simpan lu dihati dan pikiran gue. seharusnya gue ga mempunyai
rasa itu karena sampai kapanpun gue ini sahabat lu dan lu cuma nganggep gue
sahabat, ga lebih hanya sahabat. sekali lagi maafin gue." Kata itu
yang selalu gue ucapin dalam hati saat gue melihat Puput dan perasaan itu
menjamah hati gue. Gue dan dia satu
sekolah di suatu sekolah swasta bahkan kami satu kelas namun gue dan dia ga
pernah duduk sebangku entah kenapa setiap kali wali kelas kami mengacak tempat
duduk, gue ga pernah bisa satu bangku sama dia, tapi gue bisa setiap hari
bermain di rumahnya bahkan menemaninya hingga dia tertidur karena kami
bertetanggaan rumah kami bersebelahan ga ada jarak dari rumah lain.
gue dan dia udah bertetangga
sejak kecil,sejak saat itu kami menjadi sahabat ga bisa gue temui sahabat kayak
Puput sosok cewek yang ceria, selalu bisa mencairkan suasana tegang menjadi fun
dan selalu bisa membuat gue tertawa dalam keadaan apapun. Sahabat yang selalu
menemani hari – hari gue yang bisa, menjadi luar biasa. Entah sejak kapan perasaan
suka itu muncul yang gue tau saat menatap matanya ada sesuatu yang berbeda
datang kedalam hati gue, yang membuat jantung seakan berdetang sangat kencang, gue
ga tau apakah dia juga merasakan detakkan itu didalam jantungnya ?
“Rohan .. jahat ! gue cari’in lu
kemana – mana ternyata malah nongkrong di perpus.”
“kan emang gue selalu di perpus.”
“enggak. Biasanya nongkrong di kantin. Tunggu deh
kalau lu nongkrong di sini kan cuma kalau lagi ngerasa galau. Galau ya ?”
“enggak..”
“ahh jangan bohong, ngaku aja, galau kan ?”
“iya gue galau. Galau karena lu ?”
“kok gue ?”
“iyalah karena gue .............. gue belum lu
tlaktir hari ini laper tau, ga denger nih cacing lagi pada demo ?”
“hahahahahhaha baru tau cacing bisa demo.”
Segera gue tarik tangan Puput untuk menuju ke
kantin, memang selama satu minggu ini gue akan selalu di tlaktir dia karena dia
kalah taruhan. Kita bertaruhan nilai bahasa Inggris siapa yang mendapatkan
nilai bahasa inggris 90 itu pemenangnya dan gue mendapatkan nilai 90, dia 88
beda tipis tetapi dia tetap sportif itu salah satu hal yang gue suka dari dia sportif.
“ouw iya Han, nanti malam liat gue perfom di cafe bunga. Ya ?”
“yah ga bisa deh Mput, gue harus bantu Mama di
butik soalnya pegawainya ada yang cuti mana baru banyak – banyaknya pesanan
nih.”
“yah Rohan .. ayolah please. Masa di cafe – cafe
lain lu bisa di cafe bunga ga bisa, ini di cafe bunga lho Han, cafe terkenal
yang banyak didatangi artis siapa tau lu ketemu artis idola lu.”
“ga tertarik .. weekkk” ucap gue sambil menjulrkan
lidah dihadapan Puput.
“yaudah terserah lu, yang jelas gue udah nawarin.”
Ucap Puput dengan wajah bete.
“sebenarnya gue mau lihat lu perfom Mput tapi ..... gue ga bisa ninggalin tugas ini, gue harus
bantuin Mama, lu kan tau sendiri sekarang yang jadi tulang punggung keluarga tu Mama
semenjak Papa meninggal gara – gara kecelakaan pesawat 2 tahun yang lalu
ditambah kak Rani udah ga di Jakarta
lagi.”
“uadahlah ga usah sedih – sedihan lagi, senyum
dong. Gue ga suka lihat Rohan sedih gue sukanya lihat Rohan senyum.”
“selama ada lu, gue ga akan pernah sedih kok Mput.”
“selalu ya .. pinter banget kalau suruh ngegombal.”
“hahaha lu pikir gue Deni Cagur si Raja gombal.”
Gue bohong sama Puput, gue
bantuin Mama ga sampai malam cuma sore dan sebenarnya gue bisa aja ngeliat
Puput perfom di cafe itu, tapi gue ga
mau ngeliat dia, gue ga mau keseringan ketemu dia karena gue takut rasa ini
semakin menjalar di hati gue, sebenernya ga mungkin juga karena setiap hari gue
bakal ketemu dia di sekolah, tapi akan gue coba entah gimana caranya, gue ga
mau persahabatan gue sama dia rusak cuma karena keegoisan gue.
**
Sudah
hampir satu bulan gue mencoba menghindar dari Puput, dia juga merasakan kalau
gue mencoba buat menghindari dia.
“Han .. masa iya gue ketemu lu cuma di sekolah itu
aja kadang kagak ngobrol. Gue kangen Rohan yang dulu yang selalu ada buat gue
yang mau dengerin curhatan gue yang nemenin gue sampai gue bisa tidur karena
celotehan lu.”
“gue sekarang
masih sibuk bantuin Mama di butik
belum Pr yang mesti gue kerjain.”
“masalah Prkan bisa kita kerjain bareng Han .. kan
emang biasanya gitu.”
“Puput gue ngerjain Pr itu enggak di rumah tapi di
butik Mama, gimana bisa kita ngerjain bareng.”
“yaudah gue ke butik Mama lu .. oke, ntar malam gue
kesana.”
“gausah gue repot banget !”
“Han .. lu kenapa sih ? ga biasanya lu gini, lu
ngehindarin gue ya ? apa sih salah gue Han ? sikap lu thu berubah .. aneh tau
ga !” Puput pergi dengan wajah penuh kecewa.
Sebenarnya gue berat banget buat ngelakuin ini tapi
mau gimana lagi gue harus mencoba buat bisa menjauh dari dia.
**
Detik
berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari,
minggu berganti minggu hingga bulan berganti bulan. Gue dan Puput udah semakin
menjauh bahkan kini tak ada lagi sapa manis dari dia, tak lagi gue dengar keluh
kesa dia, tak lagi gue lihat dia tersenyum untuk gue. Dan beberapa bulan yang
lalu gue denger dari Raiga kalau dia pacaran sama Sion teman band dia, hati gue
semakin hancur ga ada semangat dalam hidup gue, ga ada alasan lagi buat gue ga
bisa sedih, seharusnya menghindari dia membuat gue bisa lupa akan perasaan ini
tapi semakin gue melupakan semakin besar rasa ini untuk dia.
Diam
– diam gue selalu datang untuk melihat dia perfom di cafe – cafe, Puput ga tau
dan ga akan pernah tau karena gue ga pernah memperlihatkan diri gue dihadapan
dia, bahkan dia ga tau kalau gue sakit waktu ngelihat dia sama Sion
bergandengan mesra seakan tersayat pisau tajam bermilliaran.
Gue
udah muak akan semua ini, akan kebohongan perasaan gue akan kepura – pura gue,
hingga gue putusin buat nemuin Puput buat ngomongin semua ini namun saat gue
sedang menuju rumahnya gue ngeliat dia masuk ke mobil Sion dan mobil itu melesat
melewati jalanan kompleks. Guepun lari buat ngejar mobil itu namun mobil itu
telah menghilang, langkah kaki gue enggan untuk pulang melainkan ke sebuah
taman dimana gue dan Puput sering ngeluangin waktu hanya sekedar bercanda di
taman itu.
Anganku
kembali kemasa diamana gue sama Puput sering duduk dibangku panjang berwarna
putih itu dimana kita makan ice cream hingga
belepotan kemana – mana, menulis sebuah surat kemudian kita terbangkan dengan
balon, menghabiskan waktu setelah pulang sekolah hingga larut malam, memeluk
dia hingga dia tertidur karena capek menangis saat dikecewakan oleh orang
tuanya, bahkan saat pertama kali gue jatuh cinta sama dia saat gue menatap
matanya di bangku itu.
Seakan
otak ini tak mau berhenti memutarkan setiap kenangan yang ada tak ada kenangan yang terlewat, membuat
gue menyesal udah melakukan ini semua ke Puput. Gue bingung gue harus berbuat apa dan akhirnya gue putusin
buat pulang kerumah. Saat gue melintasi rumah Puput perasaan kangenpun muncul,
segera gue berlari kerumah dan masuk ke kamar, gue rebahin tubuh gue ke atas
tempat tidur gue mencoba untuk memejamkan mata tapi mata ini saakan ada sesuatu
yang membuat enggan untuk terpejam.
Terdengar
suara mobil berhenti di depan rumah Puput, segera gue menuju jendela dan
membuka gorden, gue melihat Sion keluar dari mobil itu membukakan pintu mobil
dan Puputpun keluar dari mobil itu. Perasaan sedih itupun muncul kembali,
perasaan kini yang menemani setiap langkah gue.
**
Cafe
Nada salah satu cafe favorite gue sama Puput, selain tak jauh
dari kompleks cafe ini milik tante gue jadi gue bisa pesen makanan apa aja yang
pingin gue pesan. Gue pesan makanan yang biasa gue sama Puput makan sekedar
buat mengobati kangen gue ke dia, tapi perasaan itu masih saja ada bahkan
semakin kuat, gue putusin buat menghibur hati dengan suara gue, gue naik pangguang
menyanyikan sebuah lagu berjudul Kaulah
Segalanya, gue tujukan lagu itu untuk Puput walaupun gue tau dia ga ada di
sini, ga bisa mendengarkan lagu ini yang gue persembahnkan untuk dia.
Belum
puas gue menyanyi, gue putuskan untuk terus menyanyi lagi dan kali ini lagu
dari Fatin feat Mikha kaulah kamuku,
bait pertama sudah gue nyanyi’in dan tiba – tiba ada suara orang lain yang
menyanyikan bait kedua, gue menengok ke arah suara itu dan gue melihat sosok
sahabat yang gue cintai berdiri di situ, itu dia Puput berdiri disana
meneruskan bait selanjutnya, akhirnya gue sama Puput berduet manyanyikan lagu
itu. Setelah selesai gue ga ngeliat Puput ada di samping gue, gue hanya melihat
orang – orang melihat gue dengan pandangan aneh tak ada tepuk tangan dan tak
ada wajah tersenyum dari mereka, segera gue lari dari cafe itu berniat untuk
mencari Puput namun tak ku temui dia ada di sini.
“aahhhh begooo .... ! kenapa semua ini hanya
hayalan gue.”
**
Hari
ini tepat hari diamana Puput ulang tahun tepatnya sweetseventeen dia, gue di
undang tapi bukan Puput yang mengundang melainkan Mamanya. Gue dateng dengan
perasaan yang campur aduk, apa yang bakal gue lakukan di sana ? apa yang bakal
gue omongin ke Puput ? tanpa pikir panjang lagi gue langsung menuju ke rumah
Puput udah banyak orang di sana dan gue juga ngeliat Sion di samping dia.
“hay Mput .. Happy Sweetseventeen ya.”
“hay Han .. makasih J”
Gue kasih kotak berwarna orange
ke Puput, diapun menerimanya dengan ekspresi datar. Kesalahan bodoh yang gue
lakukan selama ini, membiayarkan perasaan gue semakin hancur. Gue pulang ke
rumah saat acara inti dimulai, gue balik lagi ke rumah dia saat acara selanjutnya,
bukan maksud gue buat menghindar atau takut sakit hati saat first cake bukan di tujukan ke gue
melainkan Sion, tapi gue pulang buat ngambil sesuatu yang pingin gue tunjukin
ke Puput sebuah flasdisk, aneh memang tapi bukan flasdisknya yang mau gue kasih ke Puput melainkan isinya dan itu
udah gue atur sebslumnya.
Gambar
yang muncul pertama adalah foto kita waktu kecil, selanjutnya saat kita
beranjak anak – anak tak lupa video kita waktu ke bonbin bersama memberi makan
kangguru, selanjutnya foto masa – masa remaja dan terakhir masa dimana kita
masuk SMA melihatkan foto – foto kita saat di sekolah, di taman dan saat dimana
gue mulai menjauh dari dia memperlihatkan video yang gue ambil secara diam –
diam saat gue melihat perfom dia
bahkan saat dia dan Sion bergandeng mesra.
Setelah
video itu selesai di tayangkan, gue keluar dari balik layar itu, gue utarakan
semua yang gue rasa penyesalan gue karena udah nyuekin dia bahkan menghindari
dia. Tak lupa gue bilang alasan gue ngehindari dia. Gue nyatakan cinta gue di
depan semua teman – teman juga di depan Mama, orang tua dia dan di depan Sion.
Gue bilang kalau dia mau menerima sahabatnya menjadi kekasihnya dia harus
membuka kado yang gue kasih dan memakai apa yang ada di dalamnya.
Sebuah
tindakan yang konyol memang menebak sahabat sendiri apalagi dia sudah mempunyai
kekasih namun tak dapat gue bendung lagi, gue harus bisa sekarang atau ga akan
pernah selamanya. Puput terdiam sejenak dan dia pun berbicara kepada Sion entah
apa yang mereka bicarakan yang akhirnya membuat Puput pergi dari situ membawa
kotak dari gue menuju ke dalam rumahnya. Perasaan hancur itu kini mengerogoti
hati gue. Gue melihat Sion dengan tatapan seakan ingin membunuh gue. Apa
mungkin ini sebuah ke bodohan yang paling besar dari pada kebodohan gue
memendam perasaan gue tak mau membuat suasana ni semakin kacau gue ptusin untuk
pulang ke rumah. Saat gue mau melangkah membuka pagar rumah Puput, tiba – tiba
ada yang memanggil gue dan tak lama gue merasakan seseorang memeluk gue dari
belakang.
“Gue cinta sama lu udah lama sebelum lu cinta sama
gue, gue pendam persaan itu sendiri karena gue ga mau merusak persahabatan kita
karena keegoisan gue, gue mencoba menrima orang lain di hati gue tapi tetap lu
yang bisa ngisi hati gue.”
Gue balik badan gue dan melihat Puput megenakan
kalung itu.
“Gue mau sahabat gue menjadi kekasih gue.”
Guepun memeluk dia erat seakan tak ingin lagi
kehianga dia.
“terus Sion ?”
“ga usah mikirin gue Han .. Puput bahagianya sama lu, sampai kapanpun di
hatinya dia cuma ada lu dan ga akan pernah terganti dan kebahagiaan Puput
menjadi bagian dari kebahagiaan gue juga.”
Gue ngelihat ketulusan dari Sion saat mengucapkan
itu. Gue merasa bersalah tapi gue senang karena sekarang gue tau kalau dia
merasakan detakan jantung yang sama.
gambar : https://www.google.com/search?sout=0&tbm=isch&q=tumblr+photography+cute+love&revid
Rabu, 01 Januari 2014
Bus Kenangan
Kata orang cinta itu bisa datang dimana saja, kapan
saja, ga perduli dia siapa, apa status orang itu dan berapa umurnya. Ya memang
dan ini yang sedang Idah rasakan jatuh cinta pada seorang cowok saat bertemu
didalam Bus kota. Seperti biasa Indah berangkat kesekolah menggunakan angkutan
umum kota, sudah hampir 2 tahun dia menggunakan angkutan umum itu untuk
berangkat ke sekolah tak ada sesuatu yang spesial karena menurutnya semua bisa
– bisa saja. panas, penat belum lagi kalau penumpangnya penuh dia harus rela untuk berdiri. Namun ada yang
berbeda di hari ini bukan karena penumpangnya lumayan banyak dan dia berdiri
tapi penumpang yang masuk ke dalam Bus dan penumpang itu berdiri di depan Indah. “siapa
dia ? kenapa selama ini aku tak pernah melihat dia ?”
Sejak
saat itu di setiap berangkat sekolah Indah selalu bertemu dengan penumpang itu.
Ingin rasanya Indah mengajak kenalan namun teras enggan. Hingga suatu hari
penumpang itu menghamipirinya dan duduk di sampingnya. “hay namaku Jodi.”
Sambil mengulurkan tangan “namaku Indah.” Entah apa yang dirasakan Indah namun
dia sangatlah senang saat itu walau hanya sebatas kenalan karena dia harus
cepat – cepat turun bus suadah sampai di depan sekolah Indah.
Hari
berganti hari, minggu berganti minggu kini mereka sudah semakin akrab dan
bahkan sering janjian untuk keluar hanya sekedar mencari angin. Begitu banyak
cerita yang sudah mereka tuangkan stau sama lain. Hingga pada suatu mala tiba
dimana Jodi mencurahkan isi hati kepada Indah. “Indah .. kamu tau ga ? aku udah
cukup lama menumpangi Bus itu bahkan sebelum kamu menumpanginya. Awal kamu
masuk ke dalam bus itu aku merasa hal yang aneh terjadi pada perasaanku, kata
orang aku sedang jatuh cinta, namun aku takut untuk mengatakan padamu pada saat
itu.” “kanapa kamu harus takut ?” “aku merasa takut saja entah kenapa.” “kenapa
kamu ga mula untuk mengajakku kenalan kalau kamu sudah melihatku saat itu ?”
“aku takut kamu ga bisa menerima keadaanku.” “keadaanmu ? hah ga mungkinlah
buktinya sekarang aku ada disini ngobrol sama kamu kita habiskan waktu seharian
bersama dan asal kamu tau aku juga mencintaimu.” “ini yang aku takutkan,
perasaanmu sama sepertiku.” “kamu thu aneh, kenapa kamu harus takut ada cewek
mencintaimu ? harusnya kamu senang karena aku juga mencintaimu.” “suatu saat
kamu akan mengerti kenapa aku takut ada orang yang mencintaiku” “seharusnya
kamu ga perlu mengungkapkan ini semua kalau hanya membuatku seperti ini aku
pikir kamu orangnya baik tapi ternyata. Seharusnya aku ga pernah mau kenal sama
kamu. Aku benci kamu.” Tangis Indah pecah dengan kekecewaan yang ada didalam
hatinya dan kini ia berlari meninggalkan Jodi dengan segala penyesalannya.
Sejak
saat pengungkapan itu kini tak pernah lagi Indah melihat Jodi ada di dalam Bus
itu dan tak pernah lagi Indah mau memikirkan laki – laki yang telah menyakiti
hatinya itu. Hingga pada suatu hari iya melihat bendera putih terpasang di gang
dimana Jodi selalu menunggu Bus itu tapi sama sekali Ia menghiraukan bendera
itu.
Sudah
hampir 2 bulan ia tak melihat Jordi kini kekawatiran datang dalam hati Indah
walaupun dia masih sangat kecewa dengan apa yang keluar dari mulut Jodi namun
dia masih menyimpan rasa dan akhirnya dia memutuskan untuk turun dari bis tepat
di depan gang dimana Jodi biasa menunggu Bus itu. Kaki Indah berjalan dengan
ragu namun kekawatirannya itu yang membuat Indah melanjutkan langkah kakinya
hingga Ia menemukan sebuah warung yang mungkin bisa ia tanya dimana alamat
rumah Jodi. “permisi.” “ia mbak mau beli apa ?” “maaf Bu saya tidak mau beli
saya hanya mau tanya alamat, apa Ibu tau alamat rumah Jodi ?” “Jodi siapa ya
mbak ?” “Jodi yang biasa kesekolah nunggu Bus di depan gang itu.” “ouw Jodi
anaknya Bu Emil ?” “wah kurang tau juga nama orang tuanya Bu.” “iya yang biasa
nunggu Bus di depan gang itu Jodi anaknya Bu Emil, rumahnya yang cat warna
kuning itu mbak.” “makasih ya Bu.” “Iya mbak sama – sama.”
Langkah
kaki Indahpun berjalan menuu kerumah yang bercat kuning itu, dipencetnya bell
yang menempel di tembok, tak lama keluar sosok wanita setengah baya dengan
wajah pucat. “ada yang bisa saya bantu mbak ?” “iya Bu mau tanya apa betul di
sini rumahnya Jodi ?” tak ada jawaban dari wanita itu dia hanya menatap wajah
Indah dan sedikit ada genangan bening di matanya. “maaf Bu, Ibu ga papa ?”
“mbak temannya Jodi ?” “iya Bu, benra ini rumahnya Jodi ?” “mari masuk dulu
mbak.” Indahpun masuk dan duduk “mau minum apa mbak ?” “apa aja Bu.” “tunggu
sebentar ya, saya buatkan minum dulu.” “iya makasih Bu.” Kini mata Indah
tertuju pada foto yang terpajang di dinding dan kini iya benar – benar yakin
kalau memang benar ini rumah Jodi karena iya melihat Jodi ada di dalam foto
itu. “Namun kemana sekarang Jodi ?”
ucap Indah dalam hati. “ini mbak diminum dulu.” “iya makasih Bu.” “sudah berapa
lama kenal sama Jodi ?” baru beberapa bulan yang lalu, sekarang Jodinya kemana
ya Bu ?” bulir putih kini membasahi pipi wanita setengah baya itu, membuat
Indah semakin bingung dan kawatir. “Jodi sudah hampir 2 bulan ini tidak tinggal
di rumah ini mbak.” “lalu dia tinggal dimana Bu ?” “dia tinggal di rumah yang
jauh lebih tenang dan nyaman.” “maksudnya Ibu ?” “dia sudah meninggal mbak.”
Betapa syoknya Indah saat mendengar perkataan itu dan bulir – bulir bening itu
mengalir di pipi lembut Indah tak kuasa iya menahan kesedihan. Dengan sekuat
tenga iya beranikan untuk menanyakan kenapa semua ini bisa terjadi. “kalau
boleh tau kenpa Jodi bisa meninggal secepat ini Bu ?” “iya mengalami sakit
kanker otak.” Kesedihan mereka semakin pecah kini tak bisa di tahan lagi mereka
saling berpeluk dan menangis.
“kini
aku tau kenapa kamu takut ada orang yang mencintaimu.” Ucap Indah di hadapan
nisan Jodi. Saat itu kini Indah hanya bisa mengenang Jodi di dalam Bus dimana
mereka bertemu, selalu iya bayangkan betapa senganya saat itu saat dimana
mereka bisa bercanda dan tertawa dan kini semua hanya kenangan.
Langganan:
Postingan (Atom)




