Ini
kisahku dengan kameraku. Perkenalkan namaku Anindya Dita biasa dipanggil Anin,
aku seorang anak berumur 15 tahun kini aku duduk di kelas 1 SMA satu step baru
dalam hidupku meinggalkan putih biru berganti menjadi putih abu – abu. Aku
hobby photography, sewaktu SMP setiap pulang sekolah aku ga pernah langsung
pulang kerumah aku selalu menghabiskan waktu untuk hunting foto keliling kota
Yogyakarta terkadang aku datang ketempat yang pernah aku datangi dan itu tidak
membuatku untuk langsung pindah ke tempat lain karena aku yakin di setiap
harinya tempat –tempat itu akan selalu
berubah walau hanya perubahan kecil. Dan kini aku siap membuka galery yang baru
di masa SMA.
Masa
– masa di SMA sangat aku nikmati mulai dari MOS hingga kini sudah hampir 6
bulan aku berada di sekolah yang baru. Ku nikmati hari – hari itu dengan
sahabat setiaku yang selalu aku bawa dia adalah
kamera kesayanganku. Seperti biasa setiap pulang sekolah aku selalu
hunting foto tak terkecuali hari ini, namun ada yang menarik mata lensa
kameraku saat aku keluar dari gerbang sekolah “tawuran pelajar” entah kenapa
aku ingin memotret kejadian itu begitu banyak jepretan yang telah aku ambil.
“Nin, awas minggir !
kamu thu gila ya ? udah tau di depan kamu tawuran malah difoto segala.” Ucap
Dion sambil menarik tanganku mundur masuk kedalam sekolah.
“kenapa sih emangnya,
Yon ? toh aku ga kenapa – kenapa.”
“emang ga kenapa –
kenapa tapi yang ada didalam kameramu itu bisa jadi barang bukti siapa yang
mukulin orang itu.” Ucap Dion sambil menujuk seorang cowok yang telah babak
belur dan di bawa ke UKS sekolah.
“ya bagus dong aku bisa
nolong orang itu dengan menunjukan foto ini ke polisi.”
“itu yang bahaya.”
“kenapa ?” tanyaku
dengan muka polos.
“Anindya Dita kalau
kamu tunjukin foto ini ke polisi bisa – bisa kamu yang babak belur di hajar
sama orang yang mukulin thu cowok.”
“emang iya ya ?”
“udah deh terserah kamu yang jelas aku udah
peringatin kamu kalau kamu mau babak belur juga sih terserah.”
Entah
apa yang aku pikirkan mendengar kata – kata Dion aku menjadi ngeri dan kini aku
mengikuti dia menuju keruang UKS ketempat dimana cowok yang babak belur itu
dibawa. Sesampainya di depan UKS sudah banyak orang yang berada di sana, bukan
orang – orang itu ingin membantu mengobati luka – luka cowok itu mereka hanya
sekedar ingin tau dengan keadaan cowok itu mungkin juga kepo kenapa bisa semua
ini bisa terjadi. Sebenarnya aku ga tau kenapa aku mengikuti Dion tapi hasil
dari aku mengikuti dia aku mempunyai obyek foto yang bisa aku jepret dengan
kameraku ini kerumunan anak – anak di depan UKS, tak terasa aku tiba persisi di
depan pintu UKS saat sedang mengarahkan lensa tiba – tiba cowok itu melihat dan
“oh Tuhan mata itu .. mata itu mirip
dengan mata .....”
“eh minggir dong, Nin, jangan berdiri di depan pintu, ini buat
lewat.”
“aduh .. sorry Ajeng.”
Sesampainya
di rumah ku buka kamera dan ku lihat semua foto.
“inikan cowok yang tadi
di UKS. Mata itu mirip dengan mata ...” segera aku berlari menuju ke sebuah
kamar yang di dalamnya tergeletak seorang pria tak berdaya dengan banyak kabel
– kabel medis yang terpasang di badannya.
“hay kak Andre. Apa kabar
kak ? kapan kakak bangun ? kapan kakak bisa main bareng sama aku ? kapan kita
bisa hunting foto bareng lagi kak ? aku kangen sama kakak, ga ada lagi yang
bisa bikin aku ketawa, ga ada lagi yang bisa menghiburku kalau lagi sedih dan
ga ada lagi yang nyium keningku sebelum aku tidur. tapi aku yakin, kakak masih
bisa mendengar semua ceritaku walau ga akan ada komentar dari mulut kakak,
mungkin itu yang bisa mengobati semua rasa sedih dan kangenku. Kak, hari ini aku
bertemu dengan seorang cowok, bukan karena cowok itu keren atau karena dia ada
di dalam kameraku tapi karena cowok itu mempunyai kemiripan dengan kakak. Mata
itu. Mata itu mirip dengan mata kakak mata yang penuh keteduhan dan ketulusan.
Entah kenapa sekarang aku jadi kepikiran dengan cowok itu kak .......” Belum
selesai aku menceritakan apa yang sedang aku rasakan, aku melihat butiran –
butiran bening mengalir keluar dari dalam matanya mangalir membasahi pipinya,
itulah yang membuat aku selalu yakin kalau kak Andre selalu mendengarkan apa
yang aku ceritakan dia selalu merespon dengan air mata yang akan selalu keluar
setiap aku bercerita. Air mata itu yang membuat aku merasa tak sendirian berada
di dunia ini setelah kepergian Papa dan Mama karena kecelakaan dan karena
kecelakaan itu juga yang membuat keadaan kak Andre seperti ini. Apa mungkin kalau aku ikut menghantar Papa
dan Mama ke bandara aku akan seperti kak Andre atau mungkin akan seperti Papa
dan Mama ? pertanyaan itulah yang selalau aku tanyakan setiap aku selesai
berbicara dengan kak Andre dan yang pasti itu aku tanyakan di dalam hati.
***
Seperti
biasa setiap istirahat aku selalu ke kantin sekolah dan pastinya selalu
ditemani Dion, Tasya dan Beni merekalah yang selama ini setia menjadi sahabatku
dan terkadang mereka menemaniku untuk hunting foto.
“eh kalian tau ga cowok
yang kemarin di bawa ke UKS ?”
“yang digebukin
kemarin, Sya ?”
“iya Yon, kamu tau ga
dia siapa ?”
“siapa emangnya ?”
“dia itu Abas, cowok paling pupoler di SMP aku
dulu dan dia mantanku.”
“hah ?!” ucapku dengan
Beni serempak.
“ih kenapa sih kalian
berdua ni ? kaget kok kompakkan. Kenapa kalian ga percaya ?”
“percaya kok, Sya. Secara kamukan cantik.”
“percaya kok, Sya. Secara kamukan cantik.”
“ah Beni jadi malu.”
Sejak
saat itu disetiap hari saat istirahat Tasya selalu membahas Abas, menceritakan
hubunganya dulu dengan dia, kelebihan cowok itu dan kekurangannya bahkan mantan
– mantan cowok itu dibahas juga sama Tasya. Awalnya aku ga tertarik dengan
cerita - ceritanya dan selalu berpura – pura cuek dengan ceritanya itu, namun
karena Tasya selalu menceritakan Abas dengan frekuensi yang sering dan detail,
aku menjadi tertarik untuk mencari tau tentang Abas dan yang pasti ga bertanya
dengan Tasya melainkan Twitter.
Dan
kini setiap pulang sekolah dan hunting foto aku selalu membuka Twitter melalui
laptop, dari situ aku tau bahwa cowok itu bernama panjang Abas Ananda, dia sama
denganku kelas satu SMA. Dari Avanya
itulah aku yakin bahwa dia yang ada didalam kameraku yang memiliki mata mirip
dengan kak Andre. Aku selalu mencari tau sedang apa dia dan apa yang dia
rasakan melalui tweet yang dia buat,
memandang setiap foto – foto yang terpos ke akunnya. Entah kenapa sekarang aku
selalu membayangkan wajahnya dan seakan tak bisa hilang dalam pikiranku.
“oh
Tuhan siapa cewek ini ? kenapa dia memanggilnya dengan sebutan sayang ? hah ! kenapa aku harus kaget dan kenapa
dengan perasaanku ini ? apa yang aku rasakan ? kenapa jantungku saakan berhenti
berdetak ? apa, apa aku cemburu ? cemburu ? berarti aku cinta sama dia ? ga, ga
mungkin. Pasti hanya sesaat. Tenang Nin, semuanya bakal kembali kekeadaan
semula.”
Sudah
hampir seminggu aku mengisi hari – hariku untuk hunting foto hingga larut malam
seperti hari ini ya hanya sekedar untuk menghilangkan rasa aneh yang melanda
perasaanku namun tetap saja tak bisa hilang. Selaluku coba untuk bisa tersenyum
dan tertawa namun saakan mulut ini tak mau dia ajak untuk tersenyum dan
tertawa. Pikiranku tak bisa lepas dengan bayang – bayang dia dengan cewek itu.
Aku selalu berjanji dengan diriku sendiri bahwa taakan lagi ku buka akun cowok
itu namun selalu saja aku mengingkarinya seaakan tangan ini sudah terseting
untuk mengetikan akun Abas. Dan setiap aku membuka akun itu aku selalu melihat
cewek itu muncul untuk menuliskan kata – kata penyemangat dan ucapan sayang.
“daripada bingung
dengan perasaan ini mending hunting foto lagi aja. tweet dulu kayaknya seru
juga.” “Otw alun – alun utara” setelah selesai aku langsung berangkat
menggunakan sepeda motor kesayanganku, sebenarnya baru saja aku sampai rumah
makan langsung mandi terus buka laptop, namun entah kenpa aku ingin hunting
foto lagi.
Sesampainya di alun – alun langsung saja ku arahkan
lensaku ke obyek – obyek yang ada di sekitarku entah penjual minunan, entah
orang jalan bahkan orang yang sedang duduk di trotoar. Sesaat kulupakaan apa
yang tadi aku rasakan. Setelah cukup lama lensa ini mengambil obyek aku
memutuskan untuk beristirahat dan membeli minuman. Saat sedang duduk dan minum
tak tau kenapa ingin rasanya aku membuka Twitter dan akhirnya ku putuskan untuk
membuka lewat handphone. Jari ini bergerak mengetik nama Abas Ananda. “hah ?! dia ada di alun – alun utara juga ?” ucapku
dalam hati saat aku melihat tweetnya satu menit yang lalu “di
sini ! di alun – alun utara ini kisah cinta kita berakhir karena
penghianatanmu.” “tunggu ! kisah cinta kita berakhir ? berarti dia putus
sama ceweknya ?” entah siapa yang mengerakkanku kini aku beranjak dari
tempat dudukku dan berkeliling alun – alun ,mencari di tengah kerumunan orang
untuk mencari dia, tapi apa yang aku dapatkan tak ada orang yang wajahnya sama
dengan Abas. “apa dia udah pulang ? tapi
statusnya baru saja.” Dengan perasaan kecewa akhirnya aku memutuskan
meninggalkan alun – alun untuk pulang kerumah.
“selamat malam kak
Andre. Maaf ya kak aku pulangnya terlalu malam. Kak, Abas putus sama pacarnya
entah aku harus sedih apa seneng yang pasti aku merasa lega kak, tapi sayang
tadi aku ga bisa ketemu sama dia padahal kita satu lokasi. Tapi gapapa yang
penting sekarang dia sendiri. Aku selalu seneng kalau kakak ngeluarin air mata
gini. Makasih ya kak udah bertahan untuk selalu menemaniku. Good night kak.” Ku
beranjak dari kursi yang aku duduki menuju kamar untuk tidur.
Hari ini hari minggu
hari dimana aku seharian menemani kak Andre. Ku buka jendela yang ada di kamar
kak Andre, selalu berharap kak Andre bisa terkena sinar matahari dan melihat
keindahan taman bunga yang ada di luar jendela. “bunga itu semakin hari semakin
indah mekar dengan penuh warna – warni. Terakhir aku dikasih bunga itu dikasih
sama kakak itupun waktu ulang tahunku yang ke 14 dan sekarang umurku 15 hampir
16. Bunga itu selalu aku simpan kak walau layu karena itu kado teristimewah
yang pernah aku dapat.” “Ngomong soal
ulang tahun hari ini tanggal ........” segera ku berlari menuju ketempat
kalander itu tergantung
“astaga hari ini kak Andre ulang tahun. Aduh kok bisa lupa gini sih ?”
tanpa berpikir panjang aku segera lari kekamar untuk ganti baju, selesai ganti
baju aku segera ke toko kue tak jauh dari rumah.
Setelah selesai
membeli cake aku langsung pulang tak seperti berangkat tadi aku berangkat denga
tergesa – gesa kini aku berjalan santai. Saat sedang belok di salah satu gang
tiba – tiba “ggguuuuubbbbbrrrrraaaakkkk ...”
aku terjatuh dan cake yang aku beli untuk kak Andre hancur.
“heh ! ati – ati dong kalau jalan liat nih cakenya hancurkan.” Ucapku dengan membereskan cake yang sudah berantakan
saat aku berdiri dan berniat untuk memarahi orang itu karena hanya diam saja
melihatku membereskan cake itu sendirian tanpa dia bantu, aku syok melihat
wajahnya.
“Abas ?”
“maaf aku ga sengaja, aku ganti deh cakenya.” Tanpa mendengarkan
perkataannya aku segera berlari.
“ya Tuhan, Abas. Itu
tadi Abas ? kenapa aku harus lari ? bukannya ini yang aku mau bertemu dengannya
? begoooo. Harusnya aku ngobrol sekarang sama dia. Adduuuhhhh !” ku masuki
kamar kak Andre dengan perasaan penuh kecewa.
“happy birthday ... happy birthday ... happy birthday ... happy
birthday brother ..” kunyanyikan lagu happy birthday dengan menyodorkan cake
yang telah hancur.
“kak, maafin Anin ya cakenya ancur, ga berbentuk. Bukan maksudku buat
ngrusakin cake ini tapi ada yang nabrak aku dan itu Abas, dia yang udah
ngrusakin cake ini.” ucapku dengan penuh ari mata yang mengalir mulus
melewati pipiku.
***
Udah hampir 3 bulan
sejak ulang tahun kak Andre dan kejadian aku di tabrak oleh Abas, aku masih
dalam penyesalan yang amat dalam. Menyesal karena tidak bisa memberikan kado
spesial untuk kak Andre dan menyesal karena saat bertemu Abas aku lari darinya.
Hari ini selesai aku
bercerita dengan kak Andre, aku memutuskan untuk menonton televisi. Tiba – tiba
bell rumah berbunyi, aku beranjak dari tempat dudukku menuju ke pintu dan
membukakan pintu itu.
“Sita ? tumben main ? ayo masuk.”
“ouw enggak Nin, Cuma mau ngasih ini.” Sita menyodorkan bunga dan
sebuah surat.
“hah ? ngapain ngasih bunga Ta ?”
“ini bukan dari aku tapi dari Abas.”
“Abas ?”
“iya, dia minta maaf karena bukan dia yang ngasih langsung tadinya dia
mau ngasih langsung tapi mendadak Mamanya telfon Papanya masuk rumah sakit.
Udah ya aku pulang dulu.”
“ouw ya makasih Ta.” Dengan penuh tanda tanya di dalam pikiranku kupandang bunga itu, bunga yang mirip dengan bunga kado ulang tahun dari kak Andre, yang masih ku simpan dan kini berubah menjadi warna coklat. Perlahan ku buka dan kubaca surat yang diberikan Abas.
“ouw ya makasih Ta.” Dengan penuh tanda tanya di dalam pikiranku kupandang bunga itu, bunga yang mirip dengan bunga kado ulang tahun dari kak Andre, yang masih ku simpan dan kini berubah menjadi warna coklat. Perlahan ku buka dan kubaca surat yang diberikan Abas.
Dear Anin, mungkin kamu bertanya –
tanya kenapa tiba – tiba aku mengirimkan surat dan bunga ini. Sejak pertama
kita bertemu di depan UKS sekolahanmu dan saat mata kita saling berpandangan
saat itu aku merasakan ada getaran lain yang melanda perasaanku. Sejak saat itu
aku mulai mencari tau tentang kamu melalui Tasya sahabatmu. Dan akhirnya aku
mendapatkan akun Twittermu, namun tak ada keberanianku untuk menfollow, entah
kenapa itu bisa terjadi , tapi setiap hari aku selalu membuka akun Twittermu
untuk sekedar tau apa yang kamu rasakan. Aku selalu mengikutimu setiap kamu metweet
untuk menuju suatu tempat, tapi ga pernah kita bisa bertemu. Hingga suatu saat
kita bertemu namun pertemuan itu membuatmu marah karena aku menjatuhkan cake
yang kamu beli untuk kakakmu. Inginku mengejarmu, namun tak kulihat kamu, emtah
kemana, aku sangat menyesal. Aku
berharap saat kita bertemu dulu kita bisa ngobrol atau aku mengganti cake yang
telah aku hanccurkan karena aku tau cake itu sangat berharga untuk kamu berikan kepada kakakmu yang sedang
terbaring tak berdaya akibat kecelakaan, aku tau semua itu dari Sita, sepupuku
yang ternyata tetanggamu. Setelah kamu baca surat ini aku janji, aku akan
follow twittermu dan aku harap kita bisa lebih dekat lagi.
Yang kini mencintaimu
Abas Ananda
Setelah selesai aku membaca surat dari Abas,
ku ambil bunga itu ku buka plastik
yang membungkus bunga dengan penuh rasa bahagia berniat memindahkan bunga itu
kedalam sebuah vase namun tiba – tiba jariku tertusuk duri dari bunga itu dan
darahnya menetes tepat diatas nama Abas Ananda,
“breaking news telah
terjadi keceakaan tunggal yang menewaskan seorang pria dan diketahui nama pria
itu Abas Ananda ..” ku lihat wajahmu dengan penuh darah dan pada saat itu hanya sesak tangis yang dapat aku ungkapakan
saat aku melihat kau di layar televisi dengan berita kecelakaan. Ku remas erat
surat darimu, sungguh ku tak percaya dengan apa yang ku lihat. Haruskah ku
benci semua jalan karena telah merenggut orang – orang yang ku sayang. Haruskah
aku memaki jalan itu ? Haruskah aku mengutuk jalan itu ? tak kusangka semua ini
bisa terjadi, ku bertemu denganmu saat kau dalam keadaan babak belur dan kini
ku berpisah denganmu dalam keadaan kau penuh luka tak bernyawa. Tak pernah ku
sangka kau memilki rasa sama seperti yang ku rasakan, namun kita tak akan
pernah bisa menyatukan rasa ini karena kau telah pergi untuk selamanya.
Ku berlari menuju kamar kak Andre dengan penuh air mata yang
masih membasahi pipiku dan saat ku buka pintu, aku melihat sorotan mata yang
penuh keteduhan dan ketulusan itu kini
sedang memandangku, memandang dengan
penuh kekawatiran, seakan berkata. “apa yang sedang terjadi padamu adikku ?
janganlah menangis, aku ada di sini, selalu disini untuk menjagamu, memelukmu
dan selalu membuatmu tersenyum.”


