Sabtu, 22 Februari 2014

TERLAMBAT


Ini kisahku dengan kameraku. Perkenalkan namaku Anindya Dita biasa dipanggil Anin, aku seorang anak berumur 15 tahun kini aku duduk di kelas 1 SMA satu step baru dalam hidupku meinggalkan putih biru berganti menjadi putih abu – abu. Aku hobby photography, sewaktu SMP setiap pulang sekolah aku ga pernah langsung pulang kerumah aku selalu menghabiskan waktu untuk hunting foto keliling kota Yogyakarta terkadang aku datang ketempat yang pernah aku datangi dan itu tidak membuatku untuk langsung pindah ke tempat lain karena aku yakin di setiap harinya tempat –tempat  itu akan selalu berubah walau hanya perubahan kecil. Dan kini aku siap membuka galery yang baru di masa SMA.
Masa – masa di SMA sangat aku nikmati mulai dari MOS hingga kini sudah hampir 6 bulan aku berada di sekolah yang baru. Ku nikmati hari – hari itu dengan sahabat setiaku yang selalu aku bawa dia adalah  kamera kesayanganku. Seperti biasa setiap pulang sekolah aku selalu hunting foto tak terkecuali hari ini, namun ada yang menarik mata lensa kameraku saat aku keluar dari gerbang sekolah “tawuran pelajar” entah kenapa aku ingin memotret kejadian itu begitu banyak jepretan yang telah aku ambil.
“Nin, awas minggir ! kamu thu gila ya ? udah tau di depan kamu tawuran malah difoto segala.” Ucap Dion sambil menarik tanganku mundur masuk kedalam sekolah.
“kenapa sih emangnya, Yon ? toh aku ga kenapa – kenapa.”
“emang ga kenapa – kenapa tapi yang ada didalam kameramu itu bisa jadi barang bukti siapa yang mukulin orang itu.” Ucap Dion sambil menujuk seorang cowok yang telah babak belur dan di bawa ke UKS sekolah.
“ya bagus dong aku bisa nolong orang itu dengan menunjukan foto ini ke polisi.”
“itu yang bahaya.”
“kenapa ?” tanyaku dengan muka polos.
“Anindya Dita kalau kamu tunjukin foto ini ke polisi bisa – bisa kamu yang babak belur di hajar sama orang yang mukulin thu cowok.”
“emang iya ya ?”
 “udah deh terserah kamu yang jelas aku udah peringatin kamu kalau kamu mau babak belur juga sih terserah.”
Entah apa yang aku pikirkan mendengar kata – kata Dion aku menjadi ngeri dan kini aku mengikuti dia menuju keruang UKS ketempat dimana cowok yang babak belur itu dibawa. Sesampainya di depan UKS sudah banyak orang yang berada di sana, bukan orang – orang itu ingin membantu mengobati luka – luka cowok itu mereka hanya sekedar ingin tau dengan keadaan cowok itu mungkin juga kepo kenapa bisa semua ini bisa terjadi. Sebenarnya aku ga tau kenapa aku mengikuti Dion tapi hasil dari aku mengikuti dia aku mempunyai obyek foto yang bisa aku jepret dengan kameraku ini kerumunan anak – anak di depan UKS, tak terasa aku tiba persisi di depan pintu UKS saat sedang mengarahkan lensa tiba – tiba cowok itu melihat dan “oh Tuhan mata itu .. mata itu mirip dengan mata .....”
“eh minggir dong, Nin,  jangan berdiri di depan pintu, ini buat lewat.”
“aduh .. sorry Ajeng.”
Sesampainya di rumah ku buka kamera dan ku lihat semua foto.
“inikan cowok yang tadi di UKS. Mata itu mirip dengan mata ...” segera aku berlari menuju ke sebuah kamar yang di dalamnya tergeletak seorang pria tak berdaya dengan banyak kabel – kabel medis yang terpasang di badannya.
“hay kak Andre. Apa kabar kak ? kapan kakak bangun ? kapan kakak bisa main bareng sama aku ? kapan kita bisa hunting foto bareng lagi kak ? aku kangen sama kakak, ga ada lagi yang bisa bikin aku ketawa, ga ada lagi yang bisa menghiburku kalau lagi sedih dan ga ada lagi yang nyium keningku sebelum aku tidur. tapi aku yakin, kakak masih bisa mendengar semua ceritaku walau ga akan ada komentar dari mulut kakak, mungkin itu yang bisa mengobati semua rasa sedih dan kangenku. Kak, hari ini aku bertemu dengan seorang cowok, bukan karena cowok itu keren atau karena dia ada di dalam kameraku tapi karena cowok itu mempunyai kemiripan dengan kakak. Mata itu. Mata itu mirip dengan mata kakak mata yang penuh keteduhan dan ketulusan. Entah kenapa sekarang aku jadi kepikiran dengan cowok itu kak .......” Belum selesai aku menceritakan apa yang sedang aku rasakan, aku melihat butiran – butiran bening mengalir keluar dari dalam matanya mangalir membasahi pipinya, itulah yang membuat aku selalu yakin kalau kak Andre selalu mendengarkan apa yang aku ceritakan dia selalu merespon dengan air mata yang akan selalu keluar setiap aku bercerita. Air mata itu yang membuat aku merasa tak sendirian berada di dunia ini setelah kepergian Papa dan Mama karena kecelakaan dan karena kecelakaan itu juga yang membuat keadaan kak Andre seperti ini. Apa mungkin kalau aku ikut menghantar Papa dan Mama ke bandara aku akan seperti kak Andre atau mungkin akan seperti Papa dan Mama ? pertanyaan itulah yang selalau aku tanyakan setiap aku selesai berbicara dengan kak Andre dan yang pasti itu aku tanyakan di dalam hati.
***
Seperti biasa setiap istirahat aku selalu ke kantin sekolah dan pastinya selalu ditemani Dion, Tasya dan Beni merekalah yang selama ini setia menjadi sahabatku dan terkadang mereka menemaniku untuk hunting foto.
“eh kalian tau ga cowok yang kemarin di bawa ke UKS ?”
“yang digebukin kemarin, Sya ?”
“iya Yon, kamu tau ga dia siapa ?”
“siapa emangnya ?”
 “dia itu Abas, cowok paling pupoler di SMP aku dulu dan dia mantanku.”
“hah ?!” ucapku dengan Beni serempak.
“ih kenapa sih kalian berdua ni ? kaget kok kompakkan. Kenapa kalian ga percaya ?” 
“percaya kok, Sya. Secara kamukan cantik.”
“ah Beni jadi malu.”
Sejak saat itu disetiap hari saat istirahat Tasya selalu membahas Abas, menceritakan hubunganya dulu dengan dia, kelebihan cowok itu dan kekurangannya bahkan mantan – mantan cowok itu dibahas juga sama Tasya. Awalnya aku ga tertarik dengan cerita - ceritanya dan selalu berpura – pura cuek dengan ceritanya itu, namun karena Tasya selalu menceritakan Abas dengan frekuensi yang sering dan detail, aku menjadi tertarik untuk mencari tau tentang Abas dan yang pasti ga bertanya dengan Tasya melainkan Twitter.
Dan kini setiap pulang sekolah dan hunting foto aku selalu membuka Twitter melalui laptop, dari situ aku tau bahwa cowok itu bernama panjang Abas Ananda, dia sama denganku kelas satu  SMA. Dari Avanya itulah aku yakin bahwa dia yang ada didalam kameraku yang memiliki mata mirip dengan kak Andre. Aku selalu mencari tau sedang apa dia dan apa yang dia rasakan melalui tweet  yang dia buat, memandang setiap foto – foto yang terpos ke akunnya. Entah kenapa sekarang aku selalu membayangkan wajahnya dan seakan tak bisa hilang dalam pikiranku.
“oh Tuhan siapa cewek ini ? kenapa dia memanggilnya dengan sebutan sayang ?  hah ! kenapa aku harus kaget dan kenapa dengan perasaanku ini ? apa yang aku rasakan ? kenapa jantungku saakan berhenti berdetak ? apa, apa aku cemburu ? cemburu ? berarti aku cinta sama dia ? ga, ga mungkin. Pasti hanya sesaat. Tenang Nin, semuanya bakal kembali kekeadaan semula.”
Sudah hampir seminggu aku mengisi hari – hariku untuk hunting foto hingga larut malam seperti hari ini ya hanya sekedar untuk menghilangkan rasa aneh yang melanda perasaanku namun tetap saja tak bisa hilang. Selaluku coba untuk bisa tersenyum dan tertawa namun saakan mulut ini tak mau dia ajak untuk tersenyum dan tertawa. Pikiranku tak bisa lepas dengan bayang – bayang dia dengan cewek itu. Aku selalu berjanji dengan diriku sendiri bahwa taakan lagi ku buka akun cowok itu namun selalu saja aku mengingkarinya seaakan tangan ini sudah terseting untuk mengetikan akun Abas. Dan setiap aku membuka akun itu aku selalu melihat cewek itu muncul untuk menuliskan kata – kata penyemangat dan ucapan sayang.
“daripada bingung dengan perasaan ini mending hunting foto lagi aja. tweet dulu kayaknya seru juga.”  “Otw alun – alun utara” setelah selesai aku langsung berangkat menggunakan sepeda motor kesayanganku, sebenarnya baru saja aku sampai rumah makan langsung mandi terus buka laptop, namun entah kenpa aku ingin hunting foto lagi.
            Sesampainya di alun – alun langsung saja ku arahkan lensaku ke obyek – obyek yang ada di sekitarku entah penjual minunan, entah orang jalan bahkan orang yang sedang duduk di trotoar. Sesaat kulupakaan apa yang tadi aku rasakan. Setelah cukup lama lensa ini mengambil obyek aku memutuskan untuk beristirahat dan membeli minuman. Saat sedang duduk dan minum tak tau kenapa ingin rasanya aku membuka Twitter dan akhirnya ku putuskan untuk membuka lewat handphone. Jari ini bergerak mengetik nama Abas Ananda. “hah ?! dia ada di alun – alun utara juga ?” ucapku dalam hati saat aku melihat tweetnya satu menit yang lalu “di sini ! di alun – alun utara ini kisah cinta kita berakhir karena penghianatanmu.” “tunggu !  kisah cinta kita berakhir ? berarti dia putus sama ceweknya ?” entah siapa yang mengerakkanku kini aku beranjak dari tempat dudukku dan berkeliling alun – alun ,mencari di tengah kerumunan orang untuk mencari dia, tapi apa yang aku dapatkan tak ada orang yang wajahnya sama dengan Abas. “apa dia udah pulang ? tapi statusnya baru saja.” Dengan perasaan kecewa akhirnya aku memutuskan meninggalkan alun – alun untuk pulang kerumah.
            “selamat malam kak Andre. Maaf ya kak aku pulangnya terlalu malam. Kak, Abas putus sama pacarnya entah aku harus sedih apa seneng yang pasti aku merasa lega kak, tapi sayang tadi aku ga bisa ketemu sama dia padahal kita satu lokasi. Tapi gapapa yang penting sekarang dia sendiri. Aku selalu seneng kalau kakak ngeluarin air mata gini. Makasih ya kak udah bertahan untuk selalu menemaniku. Good night kak.” Ku beranjak dari kursi yang aku duduki menuju kamar untuk tidur.
            Hari ini hari minggu hari dimana aku seharian menemani kak Andre. Ku buka jendela yang ada di kamar kak Andre, selalu berharap kak Andre bisa terkena sinar matahari dan melihat keindahan taman bunga yang ada di luar jendela. “bunga itu semakin hari semakin indah mekar dengan penuh warna – warni. Terakhir aku dikasih bunga itu dikasih sama kakak itupun waktu ulang tahunku yang ke 14 dan sekarang umurku 15 hampir 16. Bunga itu selalu aku simpan kak walau layu karena itu kado teristimewah yang pernah aku dapat.” “Ngomong soal ulang tahun hari ini tanggal ........” segera ku berlari menuju ketempat kalander itu tergantung
“astaga hari ini kak Andre ulang tahun. Aduh kok bisa lupa gini sih ?” tanpa berpikir panjang aku segera lari kekamar untuk ganti baju, selesai ganti baju aku segera ke toko kue tak jauh dari rumah.
            Setelah selesai membeli cake aku langsung pulang tak seperti berangkat tadi aku berangkat denga tergesa – gesa kini aku berjalan santai. Saat sedang belok di salah satu gang tiba – tiba “ggguuuuubbbbbrrrrraaaakkkk ...”  aku terjatuh dan cake yang aku beli untuk kak Andre hancur.
“heh ! ati – ati dong kalau jalan liat nih cakenya hancurkan.” Ucapku dengan membereskan cake yang sudah berantakan saat aku berdiri dan berniat untuk memarahi orang itu karena hanya diam saja melihatku membereskan cake itu sendirian tanpa dia bantu, aku syok melihat wajahnya.
“Abas ?”
“maaf aku ga sengaja, aku ganti deh cakenya.” Tanpa mendengarkan perkataannya aku segera berlari.
            “ya Tuhan, Abas. Itu tadi Abas ? kenapa aku harus lari ? bukannya ini yang aku mau bertemu dengannya ? begoooo. Harusnya aku ngobrol sekarang sama dia. Adduuuhhhh !” ku masuki kamar kak Andre dengan perasaan penuh kecewa.
“happy birthday ... happy birthday ... happy birthday ... happy birthday brother ..” kunyanyikan lagu happy birthday dengan menyodorkan cake yang telah hancur.
“kak, maafin Anin ya cakenya ancur, ga berbentuk. Bukan maksudku buat ngrusakin cake ini tapi ada yang nabrak aku dan itu Abas, dia yang udah ngrusakin cake ini.” ucapku dengan penuh ari mata yang mengalir mulus melewati pipiku.
***
            Udah hampir 3 bulan sejak ulang tahun kak Andre dan kejadian aku di tabrak oleh Abas, aku masih dalam penyesalan yang amat dalam. Menyesal karena tidak bisa memberikan kado spesial untuk kak Andre dan menyesal karena saat bertemu Abas aku lari darinya.
            Hari ini selesai aku bercerita dengan kak Andre, aku memutuskan untuk menonton televisi. Tiba – tiba bell rumah berbunyi, aku beranjak dari tempat dudukku menuju ke pintu dan membukakan pintu itu.
“Sita ? tumben main ? ayo masuk.”
“ouw enggak Nin, Cuma mau ngasih ini.” Sita menyodorkan bunga dan sebuah surat.
“hah ? ngapain ngasih bunga Ta ?”
“ini bukan dari aku tapi dari Abas.”
“Abas ?”
“iya, dia minta maaf karena bukan dia yang ngasih langsung tadinya dia mau ngasih langsung tapi mendadak Mamanya telfon Papanya masuk rumah sakit. Udah ya aku pulang dulu.” 
“ouw ya makasih Ta.” Dengan penuh tanda tanya di dalam pikiranku kupandang bunga itu, bunga yang mirip dengan bunga kado ulang tahun dari kak Andre, yang masih ku simpan dan kini berubah menjadi warna coklat. Perlahan ku buka dan kubaca surat yang diberikan Abas.
            Dear Anin, mungkin kamu bertanya – tanya kenapa tiba – tiba aku mengirimkan surat dan bunga ini. Sejak pertama kita bertemu di depan UKS sekolahanmu dan saat mata kita saling berpandangan saat itu aku merasakan ada getaran lain yang melanda perasaanku. Sejak saat itu aku mulai mencari tau tentang kamu melalui Tasya sahabatmu. Dan akhirnya aku mendapatkan akun Twittermu, namun tak ada keberanianku untuk menfollow, entah kenapa itu bisa terjadi , tapi setiap hari aku selalu membuka akun Twittermu untuk sekedar tau apa yang kamu rasakan. Aku selalu mengikutimu setiap kamu metweet untuk menuju suatu tempat, tapi ga pernah kita bisa bertemu. Hingga suatu saat kita bertemu namun pertemuan itu membuatmu marah karena aku menjatuhkan cake yang kamu beli untuk kakakmu. Inginku mengejarmu, namun tak kulihat kamu, emtah kemana,  aku sangat menyesal. Aku berharap saat kita bertemu dulu kita bisa ngobrol atau aku mengganti cake yang telah aku hanccurkan karena aku tau cake itu sangat berharga untuk  kamu berikan kepada kakakmu yang sedang terbaring tak berdaya akibat kecelakaan, aku tau semua itu dari Sita, sepupuku yang ternyata tetanggamu. Setelah kamu baca surat ini aku janji, aku akan follow twittermu dan aku harap kita bisa lebih dekat lagi.
Yang kini mencintaimu
                                                                                                                     Abas Ananda
            Setelah selesai aku membaca surat dari Abas, ku ambil bunga itu ku buka plastik yang membungkus bunga dengan penuh rasa bahagia berniat memindahkan bunga itu kedalam sebuah vase namun tiba – tiba jariku tertusuk duri dari bunga itu dan darahnya menetes tepat diatas nama Abas Ananda,
“breaking news telah terjadi keceakaan tunggal yang menewaskan seorang pria dan diketahui nama pria itu Abas Ananda ..” ku lihat wajahmu dengan penuh darah dan pada saat itu  hanya sesak tangis yang dapat aku ungkapakan saat aku melihat kau di layar televisi dengan berita kecelakaan. Ku remas erat surat darimu, sungguh ku tak percaya dengan apa yang ku lihat. Haruskah ku benci semua jalan karena telah merenggut orang – orang yang ku sayang. Haruskah aku memaki jalan itu ? Haruskah aku mengutuk jalan itu ? tak kusangka semua ini bisa terjadi, ku bertemu denganmu saat kau dalam keadaan babak belur dan kini ku berpisah denganmu dalam keadaan kau penuh luka tak bernyawa. Tak pernah ku sangka kau memilki rasa sama seperti yang ku rasakan, namun kita tak akan pernah bisa menyatukan rasa ini karena kau telah pergi untuk selamanya.
            Ku berlari menuju kamar kak Andre dengan penuh air mata yang masih membasahi pipiku dan saat ku buka pintu, aku melihat sorotan mata yang penuh keteduhan dan ketulusan itu  kini sedang  memandangku, memandang dengan penuh kekawatiran, seakan berkata. “apa yang sedang terjadi padamu adikku ? janganlah menangis, aku ada di sini, selalu disini untuk menjagamu, memelukmu dan selalu membuatmu tersenyum.”


Minggu, 16 Februari 2014

DETAKAN





 "maafin gue, gue mencintai lu, gue simpan lu dihati dan pikiran gue. seharusnya gue ga mempunyai rasa itu karena sampai kapanpun gue ini sahabat lu dan lu cuma nganggep gue sahabat, ga lebih hanya sahabat. sekali lagi maafin gue." Kata itu yang selalu gue ucapin dalam hati saat gue melihat Puput dan perasaan itu menjamah hati gue. Gue  dan dia satu sekolah di suatu sekolah swasta bahkan kami satu kelas namun gue dan dia ga pernah duduk sebangku entah kenapa setiap kali wali kelas kami mengacak tempat duduk, gue ga pernah bisa satu bangku sama dia, tapi gue bisa setiap hari bermain di rumahnya bahkan menemaninya hingga dia tertidur karena kami bertetanggaan rumah kami bersebelahan ga ada jarak dari rumah lain.
gue dan dia udah bertetangga sejak kecil,sejak saat itu kami menjadi sahabat ga bisa gue temui sahabat kayak Puput sosok cewek yang ceria, selalu bisa mencairkan suasana tegang menjadi  fun dan selalu bisa membuat gue tertawa dalam keadaan apapun. Sahabat yang selalu menemani hari – hari gue yang bisa, menjadi luar biasa. Entah sejak kapan perasaan suka itu muncul yang gue tau saat menatap matanya ada sesuatu yang berbeda datang kedalam hati gue, yang membuat jantung seakan berdetang sangat kencang, gue ga tau apakah dia juga merasakan detakkan itu didalam jantungnya ?
“Rohan .. jahat ! gue cari’in lu kemana – mana ternyata malah nongkrong di perpus.”
“kan emang gue selalu di perpus.”
“enggak. Biasanya nongkrong di kantin. Tunggu deh kalau lu nongkrong di sini kan cuma kalau lagi ngerasa galau. Galau ya ?”
“enggak..”
“ahh jangan bohong, ngaku aja, galau kan ?”
“iya gue galau. Galau karena lu ?”
“kok gue ?”
“iyalah karena gue .............. gue belum lu tlaktir hari ini laper tau, ga denger nih cacing lagi pada demo ?”
“hahahahahhaha baru tau cacing bisa demo.”
Segera gue tarik tangan Puput untuk menuju ke kantin, memang selama satu minggu ini gue akan selalu di tlaktir dia karena dia kalah taruhan. Kita bertaruhan nilai bahasa Inggris siapa yang mendapatkan nilai bahasa inggris 90 itu pemenangnya dan gue mendapatkan nilai 90, dia 88 beda tipis tetapi dia tetap sportif  itu salah satu hal yang gue suka dari dia sportif. 
“ouw iya Han, nanti malam liat gue perfom di cafe bunga. Ya ?”
“yah ga bisa deh Mput, gue harus bantu Mama di butik soalnya pegawainya ada yang cuti mana baru banyak – banyaknya pesanan nih.”
“yah Rohan .. ayolah please. Masa di cafe – cafe lain lu bisa di cafe bunga ga bisa, ini di cafe bunga lho Han, cafe terkenal yang banyak didatangi artis siapa tau lu ketemu artis idola lu.”
“ga tertarik .. weekkk” ucap gue sambil menjulrkan lidah dihadapan Puput.
“yaudah terserah lu, yang jelas gue udah nawarin.” Ucap Puput dengan wajah bete.
“sebenarnya gue mau lihat lu perfom Mput tapi ..... gue ga bisa ninggalin tugas ini, gue harus bantuin Mama, lu kan tau sendiri sekarang  yang jadi tulang punggung keluarga tu Mama semenjak Papa meninggal gara – gara kecelakaan pesawat 2 tahun yang lalu ditambah  kak Rani udah ga di Jakarta lagi.”
“uadahlah ga usah sedih – sedihan lagi, senyum dong. Gue ga suka lihat Rohan sedih gue sukanya lihat Rohan senyum.”
“selama ada lu, gue ga akan pernah sedih kok Mput.”
“selalu ya .. pinter banget kalau suruh ngegombal.”
“hahaha lu pikir gue Deni Cagur si Raja gombal.”
Gue bohong sama Puput, gue bantuin Mama ga sampai malam cuma sore dan sebenarnya gue bisa aja ngeliat Puput perfom di cafe itu, tapi gue ga mau ngeliat dia, gue ga mau keseringan ketemu dia karena gue takut rasa ini semakin menjalar di hati gue, sebenernya ga mungkin juga karena setiap hari gue bakal ketemu dia di sekolah, tapi akan gue coba entah gimana caranya, gue ga mau persahabatan gue sama dia rusak cuma karena keegoisan gue.
**
            Sudah hampir satu bulan gue mencoba menghindar dari Puput, dia juga merasakan kalau gue mencoba buat menghindari dia.
“Han .. masa iya gue ketemu lu cuma di sekolah itu aja kadang kagak ngobrol. Gue kangen Rohan yang dulu yang selalu ada buat gue yang mau dengerin curhatan gue yang nemenin gue sampai gue bisa tidur karena celotehan lu.”
“gue sekarang  masih sibuk  bantuin Mama di butik belum Pr yang mesti gue kerjain.”
“masalah Prkan bisa kita kerjain bareng Han .. kan emang biasanya gitu.”
“Puput gue ngerjain Pr itu enggak di rumah tapi di butik Mama, gimana bisa kita ngerjain bareng.”
“yaudah gue ke butik Mama lu .. oke, ntar malam gue kesana.”
“gausah gue repot banget !”
“Han .. lu kenapa sih ? ga biasanya lu gini, lu ngehindarin gue ya ? apa sih salah gue Han ? sikap lu thu berubah .. aneh tau ga !” Puput pergi dengan wajah penuh kecewa.
Sebenarnya gue berat banget buat ngelakuin ini tapi mau gimana lagi gue harus mencoba buat bisa menjauh dari dia.
**
            Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam, hari berganti hari, minggu berganti minggu hingga bulan berganti bulan. Gue dan Puput udah semakin menjauh bahkan kini tak ada lagi sapa manis dari dia, tak lagi gue dengar keluh kesa dia, tak lagi gue lihat dia tersenyum untuk gue. Dan beberapa bulan yang lalu gue denger dari Raiga kalau dia pacaran sama Sion teman band dia, hati gue semakin hancur ga ada semangat dalam hidup gue, ga ada alasan lagi buat gue ga bisa sedih, seharusnya menghindari dia membuat gue bisa lupa akan perasaan ini tapi semakin gue melupakan semakin besar rasa ini untuk dia.
            Diam – diam gue selalu datang untuk melihat dia perfom di cafe – cafe, Puput ga tau dan ga akan pernah tau karena gue ga pernah memperlihatkan diri gue dihadapan dia, bahkan dia ga tau kalau gue sakit waktu ngelihat dia sama Sion bergandengan mesra seakan tersayat pisau tajam bermilliaran.
            Gue udah muak akan semua ini, akan kebohongan perasaan gue akan kepura – pura gue, hingga gue putusin buat nemuin Puput buat ngomongin semua ini namun saat gue sedang menuju rumahnya gue ngeliat dia masuk ke mobil Sion dan mobil itu melesat melewati jalanan kompleks. Guepun lari buat ngejar mobil itu namun mobil itu telah menghilang, langkah kaki gue enggan untuk pulang melainkan ke sebuah taman dimana gue dan Puput sering ngeluangin waktu hanya sekedar bercanda di taman itu.
            Anganku kembali kemasa diamana gue sama Puput sering duduk dibangku panjang berwarna putih itu dimana kita makan ice cream hingga belepotan kemana – mana, menulis sebuah surat kemudian kita terbangkan dengan balon, menghabiskan waktu setelah pulang sekolah hingga larut malam, memeluk dia hingga dia tertidur karena capek menangis saat dikecewakan oleh orang tuanya, bahkan saat pertama kali gue jatuh cinta sama dia saat gue menatap matanya di bangku itu.
            Seakan otak ini tak mau berhenti memutarkan setiap kenangan yang  ada tak ada kenangan yang terlewat, membuat gue menyesal udah melakukan ini semua ke Puput. Gue bingung  gue harus berbuat apa dan akhirnya gue putusin buat pulang kerumah. Saat gue melintasi rumah Puput perasaan kangenpun muncul, segera gue berlari kerumah dan masuk ke kamar, gue rebahin tubuh gue ke atas tempat tidur gue mencoba untuk memejamkan mata tapi mata ini saakan ada sesuatu yang membuat enggan untuk terpejam.
            Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah Puput, segera gue menuju jendela dan membuka gorden, gue melihat Sion keluar dari mobil itu membukakan pintu mobil dan Puputpun keluar dari mobil itu. Perasaan sedih itupun muncul kembali, perasaan kini yang menemani setiap langkah gue.
**
            Cafe Nada salah satu cafe  favorite gue sama Puput, selain tak jauh dari kompleks cafe ini milik tante gue jadi gue bisa pesen makanan apa aja yang pingin gue pesan. Gue pesan makanan yang biasa gue sama Puput makan sekedar buat mengobati kangen gue ke dia, tapi perasaan itu masih saja ada bahkan semakin kuat, gue putusin buat menghibur hati dengan suara gue, gue naik pangguang menyanyikan sebuah lagu berjudul Kaulah Segalanya, gue tujukan lagu itu untuk Puput walaupun gue tau dia ga ada di sini, ga bisa mendengarkan lagu ini yang gue persembahnkan untuk dia.
            Belum puas gue menyanyi, gue putuskan untuk terus menyanyi lagi dan kali ini lagu dari Fatin feat Mikha kaulah kamuku, bait pertama sudah gue nyanyi’in dan tiba – tiba ada suara orang lain yang menyanyikan bait kedua, gue menengok ke arah suara itu dan gue melihat sosok sahabat yang gue cintai berdiri di situ, itu dia Puput berdiri disana meneruskan bait selanjutnya, akhirnya gue sama Puput berduet manyanyikan lagu itu. Setelah selesai gue ga ngeliat Puput ada di samping gue, gue hanya melihat orang – orang melihat gue dengan pandangan aneh tak ada tepuk tangan dan tak ada wajah tersenyum dari mereka, segera gue lari dari cafe itu berniat untuk mencari Puput namun tak ku temui dia ada di sini.
“aahhhh begooo .... ! kenapa semua ini hanya hayalan gue.”
**
            Hari ini tepat hari diamana Puput ulang tahun tepatnya sweetseventeen dia, gue di undang tapi bukan Puput yang mengundang melainkan Mamanya. Gue dateng dengan perasaan yang campur aduk, apa yang bakal gue lakukan di sana ? apa yang bakal gue omongin ke Puput ? tanpa pikir panjang lagi gue langsung menuju ke rumah Puput udah banyak orang di sana dan gue juga ngeliat Sion di samping dia.
“hay Mput .. Happy Sweetseventeen ya.”
“hay Han .. makasih J
Gue kasih kotak berwarna orange ke Puput, diapun menerimanya dengan ekspresi datar. Kesalahan bodoh yang gue lakukan selama ini, membiayarkan perasaan gue semakin hancur. Gue pulang ke rumah saat acara inti dimulai, gue balik lagi ke rumah dia saat acara selanjutnya, bukan maksud gue buat menghindar atau takut sakit hati saat first cake bukan di tujukan ke gue melainkan Sion, tapi gue pulang buat ngambil sesuatu yang pingin gue tunjukin ke Puput sebuah  flasdisk, aneh memang tapi bukan flasdisknya yang mau gue kasih ke Puput melainkan isinya dan itu udah gue atur sebslumnya.
            Gambar yang muncul pertama adalah foto kita waktu kecil, selanjutnya saat kita beranjak anak – anak tak lupa video kita waktu ke bonbin bersama memberi makan kangguru, selanjutnya foto masa – masa remaja dan terakhir masa dimana kita masuk SMA melihatkan foto – foto kita saat di sekolah, di taman dan saat dimana gue mulai menjauh dari dia memperlihatkan video yang gue ambil secara diam – diam saat gue melihat perfom dia bahkan saat dia dan Sion bergandeng mesra.
            Setelah video itu selesai di tayangkan, gue keluar dari balik layar itu, gue utarakan semua yang gue rasa penyesalan gue karena udah nyuekin dia bahkan menghindari dia. Tak lupa gue bilang alasan gue ngehindari dia. Gue nyatakan cinta gue di depan semua teman – teman juga di depan Mama, orang tua dia dan di depan Sion. Gue bilang kalau dia mau menerima sahabatnya menjadi kekasihnya dia harus membuka kado yang gue kasih dan memakai apa yang ada di dalamnya.
            Sebuah tindakan yang konyol memang menebak sahabat sendiri apalagi dia sudah mempunyai kekasih namun tak dapat gue bendung lagi, gue harus bisa sekarang atau ga akan pernah selamanya. Puput terdiam sejenak dan dia pun berbicara kepada Sion entah apa yang mereka bicarakan yang akhirnya membuat Puput pergi dari situ membawa kotak dari gue menuju ke dalam rumahnya. Perasaan hancur itu kini mengerogoti hati gue. Gue melihat Sion dengan tatapan seakan ingin membunuh gue. Apa mungkin ini sebuah ke bodohan yang paling besar dari pada kebodohan gue memendam perasaan gue tak mau membuat suasana ni semakin kacau gue ptusin untuk pulang ke rumah. Saat gue mau melangkah membuka pagar rumah Puput, tiba – tiba ada yang memanggil gue dan tak lama gue merasakan seseorang memeluk gue dari belakang.
“Gue cinta sama lu udah lama sebelum lu cinta sama gue, gue pendam persaan itu sendiri karena gue ga mau merusak persahabatan kita karena keegoisan gue, gue mencoba menrima orang lain di hati gue tapi tetap lu yang bisa ngisi hati gue.”
Gue balik badan gue dan melihat Puput megenakan kalung itu.
“Gue mau sahabat gue menjadi kekasih gue.”
Guepun memeluk dia erat seakan tak ingin lagi kehianga dia.
“terus Sion ?”
“ga usah mikirin gue Han .. Puput  bahagianya sama lu, sampai kapanpun di hatinya dia cuma ada lu dan ga akan pernah terganti dan kebahagiaan Puput menjadi bagian dari kebahagiaan gue juga.”
Gue ngelihat ketulusan dari Sion saat mengucapkan itu. Gue merasa bersalah tapi gue senang karena sekarang gue tau kalau dia merasakan detakan jantung yang sama.

gambar : https://www.google.com/search?sout=0&tbm=isch&q=tumblr+photography+cute+love&revid