Sabtu, 22 Februari 2014

TERLAMBAT


Ini kisahku dengan kameraku. Perkenalkan namaku Anindya Dita biasa dipanggil Anin, aku seorang anak berumur 15 tahun kini aku duduk di kelas 1 SMA satu step baru dalam hidupku meinggalkan putih biru berganti menjadi putih abu – abu. Aku hobby photography, sewaktu SMP setiap pulang sekolah aku ga pernah langsung pulang kerumah aku selalu menghabiskan waktu untuk hunting foto keliling kota Yogyakarta terkadang aku datang ketempat yang pernah aku datangi dan itu tidak membuatku untuk langsung pindah ke tempat lain karena aku yakin di setiap harinya tempat –tempat  itu akan selalu berubah walau hanya perubahan kecil. Dan kini aku siap membuka galery yang baru di masa SMA.
Masa – masa di SMA sangat aku nikmati mulai dari MOS hingga kini sudah hampir 6 bulan aku berada di sekolah yang baru. Ku nikmati hari – hari itu dengan sahabat setiaku yang selalu aku bawa dia adalah  kamera kesayanganku. Seperti biasa setiap pulang sekolah aku selalu hunting foto tak terkecuali hari ini, namun ada yang menarik mata lensa kameraku saat aku keluar dari gerbang sekolah “tawuran pelajar” entah kenapa aku ingin memotret kejadian itu begitu banyak jepretan yang telah aku ambil.
“Nin, awas minggir ! kamu thu gila ya ? udah tau di depan kamu tawuran malah difoto segala.” Ucap Dion sambil menarik tanganku mundur masuk kedalam sekolah.
“kenapa sih emangnya, Yon ? toh aku ga kenapa – kenapa.”
“emang ga kenapa – kenapa tapi yang ada didalam kameramu itu bisa jadi barang bukti siapa yang mukulin orang itu.” Ucap Dion sambil menujuk seorang cowok yang telah babak belur dan di bawa ke UKS sekolah.
“ya bagus dong aku bisa nolong orang itu dengan menunjukan foto ini ke polisi.”
“itu yang bahaya.”
“kenapa ?” tanyaku dengan muka polos.
“Anindya Dita kalau kamu tunjukin foto ini ke polisi bisa – bisa kamu yang babak belur di hajar sama orang yang mukulin thu cowok.”
“emang iya ya ?”
 “udah deh terserah kamu yang jelas aku udah peringatin kamu kalau kamu mau babak belur juga sih terserah.”
Entah apa yang aku pikirkan mendengar kata – kata Dion aku menjadi ngeri dan kini aku mengikuti dia menuju keruang UKS ketempat dimana cowok yang babak belur itu dibawa. Sesampainya di depan UKS sudah banyak orang yang berada di sana, bukan orang – orang itu ingin membantu mengobati luka – luka cowok itu mereka hanya sekedar ingin tau dengan keadaan cowok itu mungkin juga kepo kenapa bisa semua ini bisa terjadi. Sebenarnya aku ga tau kenapa aku mengikuti Dion tapi hasil dari aku mengikuti dia aku mempunyai obyek foto yang bisa aku jepret dengan kameraku ini kerumunan anak – anak di depan UKS, tak terasa aku tiba persisi di depan pintu UKS saat sedang mengarahkan lensa tiba – tiba cowok itu melihat dan “oh Tuhan mata itu .. mata itu mirip dengan mata .....”
“eh minggir dong, Nin,  jangan berdiri di depan pintu, ini buat lewat.”
“aduh .. sorry Ajeng.”
Sesampainya di rumah ku buka kamera dan ku lihat semua foto.
“inikan cowok yang tadi di UKS. Mata itu mirip dengan mata ...” segera aku berlari menuju ke sebuah kamar yang di dalamnya tergeletak seorang pria tak berdaya dengan banyak kabel – kabel medis yang terpasang di badannya.
“hay kak Andre. Apa kabar kak ? kapan kakak bangun ? kapan kakak bisa main bareng sama aku ? kapan kita bisa hunting foto bareng lagi kak ? aku kangen sama kakak, ga ada lagi yang bisa bikin aku ketawa, ga ada lagi yang bisa menghiburku kalau lagi sedih dan ga ada lagi yang nyium keningku sebelum aku tidur. tapi aku yakin, kakak masih bisa mendengar semua ceritaku walau ga akan ada komentar dari mulut kakak, mungkin itu yang bisa mengobati semua rasa sedih dan kangenku. Kak, hari ini aku bertemu dengan seorang cowok, bukan karena cowok itu keren atau karena dia ada di dalam kameraku tapi karena cowok itu mempunyai kemiripan dengan kakak. Mata itu. Mata itu mirip dengan mata kakak mata yang penuh keteduhan dan ketulusan. Entah kenapa sekarang aku jadi kepikiran dengan cowok itu kak .......” Belum selesai aku menceritakan apa yang sedang aku rasakan, aku melihat butiran – butiran bening mengalir keluar dari dalam matanya mangalir membasahi pipinya, itulah yang membuat aku selalu yakin kalau kak Andre selalu mendengarkan apa yang aku ceritakan dia selalu merespon dengan air mata yang akan selalu keluar setiap aku bercerita. Air mata itu yang membuat aku merasa tak sendirian berada di dunia ini setelah kepergian Papa dan Mama karena kecelakaan dan karena kecelakaan itu juga yang membuat keadaan kak Andre seperti ini. Apa mungkin kalau aku ikut menghantar Papa dan Mama ke bandara aku akan seperti kak Andre atau mungkin akan seperti Papa dan Mama ? pertanyaan itulah yang selalau aku tanyakan setiap aku selesai berbicara dengan kak Andre dan yang pasti itu aku tanyakan di dalam hati.
***
Seperti biasa setiap istirahat aku selalu ke kantin sekolah dan pastinya selalu ditemani Dion, Tasya dan Beni merekalah yang selama ini setia menjadi sahabatku dan terkadang mereka menemaniku untuk hunting foto.
“eh kalian tau ga cowok yang kemarin di bawa ke UKS ?”
“yang digebukin kemarin, Sya ?”
“iya Yon, kamu tau ga dia siapa ?”
“siapa emangnya ?”
 “dia itu Abas, cowok paling pupoler di SMP aku dulu dan dia mantanku.”
“hah ?!” ucapku dengan Beni serempak.
“ih kenapa sih kalian berdua ni ? kaget kok kompakkan. Kenapa kalian ga percaya ?” 
“percaya kok, Sya. Secara kamukan cantik.”
“ah Beni jadi malu.”
Sejak saat itu disetiap hari saat istirahat Tasya selalu membahas Abas, menceritakan hubunganya dulu dengan dia, kelebihan cowok itu dan kekurangannya bahkan mantan – mantan cowok itu dibahas juga sama Tasya. Awalnya aku ga tertarik dengan cerita - ceritanya dan selalu berpura – pura cuek dengan ceritanya itu, namun karena Tasya selalu menceritakan Abas dengan frekuensi yang sering dan detail, aku menjadi tertarik untuk mencari tau tentang Abas dan yang pasti ga bertanya dengan Tasya melainkan Twitter.
Dan kini setiap pulang sekolah dan hunting foto aku selalu membuka Twitter melalui laptop, dari situ aku tau bahwa cowok itu bernama panjang Abas Ananda, dia sama denganku kelas satu  SMA. Dari Avanya itulah aku yakin bahwa dia yang ada didalam kameraku yang memiliki mata mirip dengan kak Andre. Aku selalu mencari tau sedang apa dia dan apa yang dia rasakan melalui tweet  yang dia buat, memandang setiap foto – foto yang terpos ke akunnya. Entah kenapa sekarang aku selalu membayangkan wajahnya dan seakan tak bisa hilang dalam pikiranku.
“oh Tuhan siapa cewek ini ? kenapa dia memanggilnya dengan sebutan sayang ?  hah ! kenapa aku harus kaget dan kenapa dengan perasaanku ini ? apa yang aku rasakan ? kenapa jantungku saakan berhenti berdetak ? apa, apa aku cemburu ? cemburu ? berarti aku cinta sama dia ? ga, ga mungkin. Pasti hanya sesaat. Tenang Nin, semuanya bakal kembali kekeadaan semula.”
Sudah hampir seminggu aku mengisi hari – hariku untuk hunting foto hingga larut malam seperti hari ini ya hanya sekedar untuk menghilangkan rasa aneh yang melanda perasaanku namun tetap saja tak bisa hilang. Selaluku coba untuk bisa tersenyum dan tertawa namun saakan mulut ini tak mau dia ajak untuk tersenyum dan tertawa. Pikiranku tak bisa lepas dengan bayang – bayang dia dengan cewek itu. Aku selalu berjanji dengan diriku sendiri bahwa taakan lagi ku buka akun cowok itu namun selalu saja aku mengingkarinya seaakan tangan ini sudah terseting untuk mengetikan akun Abas. Dan setiap aku membuka akun itu aku selalu melihat cewek itu muncul untuk menuliskan kata – kata penyemangat dan ucapan sayang.
“daripada bingung dengan perasaan ini mending hunting foto lagi aja. tweet dulu kayaknya seru juga.”  “Otw alun – alun utara” setelah selesai aku langsung berangkat menggunakan sepeda motor kesayanganku, sebenarnya baru saja aku sampai rumah makan langsung mandi terus buka laptop, namun entah kenpa aku ingin hunting foto lagi.
            Sesampainya di alun – alun langsung saja ku arahkan lensaku ke obyek – obyek yang ada di sekitarku entah penjual minunan, entah orang jalan bahkan orang yang sedang duduk di trotoar. Sesaat kulupakaan apa yang tadi aku rasakan. Setelah cukup lama lensa ini mengambil obyek aku memutuskan untuk beristirahat dan membeli minuman. Saat sedang duduk dan minum tak tau kenapa ingin rasanya aku membuka Twitter dan akhirnya ku putuskan untuk membuka lewat handphone. Jari ini bergerak mengetik nama Abas Ananda. “hah ?! dia ada di alun – alun utara juga ?” ucapku dalam hati saat aku melihat tweetnya satu menit yang lalu “di sini ! di alun – alun utara ini kisah cinta kita berakhir karena penghianatanmu.” “tunggu !  kisah cinta kita berakhir ? berarti dia putus sama ceweknya ?” entah siapa yang mengerakkanku kini aku beranjak dari tempat dudukku dan berkeliling alun – alun ,mencari di tengah kerumunan orang untuk mencari dia, tapi apa yang aku dapatkan tak ada orang yang wajahnya sama dengan Abas. “apa dia udah pulang ? tapi statusnya baru saja.” Dengan perasaan kecewa akhirnya aku memutuskan meninggalkan alun – alun untuk pulang kerumah.
            “selamat malam kak Andre. Maaf ya kak aku pulangnya terlalu malam. Kak, Abas putus sama pacarnya entah aku harus sedih apa seneng yang pasti aku merasa lega kak, tapi sayang tadi aku ga bisa ketemu sama dia padahal kita satu lokasi. Tapi gapapa yang penting sekarang dia sendiri. Aku selalu seneng kalau kakak ngeluarin air mata gini. Makasih ya kak udah bertahan untuk selalu menemaniku. Good night kak.” Ku beranjak dari kursi yang aku duduki menuju kamar untuk tidur.
            Hari ini hari minggu hari dimana aku seharian menemani kak Andre. Ku buka jendela yang ada di kamar kak Andre, selalu berharap kak Andre bisa terkena sinar matahari dan melihat keindahan taman bunga yang ada di luar jendela. “bunga itu semakin hari semakin indah mekar dengan penuh warna – warni. Terakhir aku dikasih bunga itu dikasih sama kakak itupun waktu ulang tahunku yang ke 14 dan sekarang umurku 15 hampir 16. Bunga itu selalu aku simpan kak walau layu karena itu kado teristimewah yang pernah aku dapat.” “Ngomong soal ulang tahun hari ini tanggal ........” segera ku berlari menuju ketempat kalander itu tergantung
“astaga hari ini kak Andre ulang tahun. Aduh kok bisa lupa gini sih ?” tanpa berpikir panjang aku segera lari kekamar untuk ganti baju, selesai ganti baju aku segera ke toko kue tak jauh dari rumah.
            Setelah selesai membeli cake aku langsung pulang tak seperti berangkat tadi aku berangkat denga tergesa – gesa kini aku berjalan santai. Saat sedang belok di salah satu gang tiba – tiba “ggguuuuubbbbbrrrrraaaakkkk ...”  aku terjatuh dan cake yang aku beli untuk kak Andre hancur.
“heh ! ati – ati dong kalau jalan liat nih cakenya hancurkan.” Ucapku dengan membereskan cake yang sudah berantakan saat aku berdiri dan berniat untuk memarahi orang itu karena hanya diam saja melihatku membereskan cake itu sendirian tanpa dia bantu, aku syok melihat wajahnya.
“Abas ?”
“maaf aku ga sengaja, aku ganti deh cakenya.” Tanpa mendengarkan perkataannya aku segera berlari.
            “ya Tuhan, Abas. Itu tadi Abas ? kenapa aku harus lari ? bukannya ini yang aku mau bertemu dengannya ? begoooo. Harusnya aku ngobrol sekarang sama dia. Adduuuhhhh !” ku masuki kamar kak Andre dengan perasaan penuh kecewa.
“happy birthday ... happy birthday ... happy birthday ... happy birthday brother ..” kunyanyikan lagu happy birthday dengan menyodorkan cake yang telah hancur.
“kak, maafin Anin ya cakenya ancur, ga berbentuk. Bukan maksudku buat ngrusakin cake ini tapi ada yang nabrak aku dan itu Abas, dia yang udah ngrusakin cake ini.” ucapku dengan penuh ari mata yang mengalir mulus melewati pipiku.
***
            Udah hampir 3 bulan sejak ulang tahun kak Andre dan kejadian aku di tabrak oleh Abas, aku masih dalam penyesalan yang amat dalam. Menyesal karena tidak bisa memberikan kado spesial untuk kak Andre dan menyesal karena saat bertemu Abas aku lari darinya.
            Hari ini selesai aku bercerita dengan kak Andre, aku memutuskan untuk menonton televisi. Tiba – tiba bell rumah berbunyi, aku beranjak dari tempat dudukku menuju ke pintu dan membukakan pintu itu.
“Sita ? tumben main ? ayo masuk.”
“ouw enggak Nin, Cuma mau ngasih ini.” Sita menyodorkan bunga dan sebuah surat.
“hah ? ngapain ngasih bunga Ta ?”
“ini bukan dari aku tapi dari Abas.”
“Abas ?”
“iya, dia minta maaf karena bukan dia yang ngasih langsung tadinya dia mau ngasih langsung tapi mendadak Mamanya telfon Papanya masuk rumah sakit. Udah ya aku pulang dulu.” 
“ouw ya makasih Ta.” Dengan penuh tanda tanya di dalam pikiranku kupandang bunga itu, bunga yang mirip dengan bunga kado ulang tahun dari kak Andre, yang masih ku simpan dan kini berubah menjadi warna coklat. Perlahan ku buka dan kubaca surat yang diberikan Abas.
            Dear Anin, mungkin kamu bertanya – tanya kenapa tiba – tiba aku mengirimkan surat dan bunga ini. Sejak pertama kita bertemu di depan UKS sekolahanmu dan saat mata kita saling berpandangan saat itu aku merasakan ada getaran lain yang melanda perasaanku. Sejak saat itu aku mulai mencari tau tentang kamu melalui Tasya sahabatmu. Dan akhirnya aku mendapatkan akun Twittermu, namun tak ada keberanianku untuk menfollow, entah kenapa itu bisa terjadi , tapi setiap hari aku selalu membuka akun Twittermu untuk sekedar tau apa yang kamu rasakan. Aku selalu mengikutimu setiap kamu metweet untuk menuju suatu tempat, tapi ga pernah kita bisa bertemu. Hingga suatu saat kita bertemu namun pertemuan itu membuatmu marah karena aku menjatuhkan cake yang kamu beli untuk kakakmu. Inginku mengejarmu, namun tak kulihat kamu, emtah kemana,  aku sangat menyesal. Aku berharap saat kita bertemu dulu kita bisa ngobrol atau aku mengganti cake yang telah aku hanccurkan karena aku tau cake itu sangat berharga untuk  kamu berikan kepada kakakmu yang sedang terbaring tak berdaya akibat kecelakaan, aku tau semua itu dari Sita, sepupuku yang ternyata tetanggamu. Setelah kamu baca surat ini aku janji, aku akan follow twittermu dan aku harap kita bisa lebih dekat lagi.
Yang kini mencintaimu
                                                                                                                     Abas Ananda
            Setelah selesai aku membaca surat dari Abas, ku ambil bunga itu ku buka plastik yang membungkus bunga dengan penuh rasa bahagia berniat memindahkan bunga itu kedalam sebuah vase namun tiba – tiba jariku tertusuk duri dari bunga itu dan darahnya menetes tepat diatas nama Abas Ananda,
“breaking news telah terjadi keceakaan tunggal yang menewaskan seorang pria dan diketahui nama pria itu Abas Ananda ..” ku lihat wajahmu dengan penuh darah dan pada saat itu  hanya sesak tangis yang dapat aku ungkapakan saat aku melihat kau di layar televisi dengan berita kecelakaan. Ku remas erat surat darimu, sungguh ku tak percaya dengan apa yang ku lihat. Haruskah ku benci semua jalan karena telah merenggut orang – orang yang ku sayang. Haruskah aku memaki jalan itu ? Haruskah aku mengutuk jalan itu ? tak kusangka semua ini bisa terjadi, ku bertemu denganmu saat kau dalam keadaan babak belur dan kini ku berpisah denganmu dalam keadaan kau penuh luka tak bernyawa. Tak pernah ku sangka kau memilki rasa sama seperti yang ku rasakan, namun kita tak akan pernah bisa menyatukan rasa ini karena kau telah pergi untuk selamanya.
            Ku berlari menuju kamar kak Andre dengan penuh air mata yang masih membasahi pipiku dan saat ku buka pintu, aku melihat sorotan mata yang penuh keteduhan dan ketulusan itu  kini sedang  memandangku, memandang dengan penuh kekawatiran, seakan berkata. “apa yang sedang terjadi padamu adikku ? janganlah menangis, aku ada di sini, selalu disini untuk menjagamu, memelukmu dan selalu membuatmu tersenyum.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar