"Seandainya" adalah kata yang menjebak kita pada "khayalan".
Kata itu yang selalu muncul dalam pikiranku saat aku dalam keadaan yang sangat berharap.
Hai hujan. Kau datang lagi sore ini. Apa yang ingin kau ceritakan sore ini? Sudahkah kau jatuh dihadapannya? Apakah dia bahagia atau justru menggerutu melihatmu? Atau mungkin dua acuh padamu?
Kau tau apa yang membuatku bahagia saat kau datang? Bukan, bukan karena kenangan atau alasan yang sering orang lontarkan saat kau datang. Tapi, karena aku suka mendengarmu bernyanyi dan kau menceritakan tentang orang - orang yang terkadang membencimu, menyukaimu, membuatmu menjadi alasan dan bahkan menyalahkanmu. Termasuk dia yang mungkin bahagia saat kau datang atau bahkan dia akan benci, menjadikanmu sebuah alasan dan bahkan menyalahkanmu. Aku mingkin tidak tau tapi kau pasti tau apa yang dia rasakan tentang kamu saat ini.
Kata itu yang selalu muncul dalam pikiranku saat aku dalam keadaan yang sangat berharap.
Hai hujan. Kau datang lagi sore ini. Apa yang ingin kau ceritakan sore ini? Sudahkah kau jatuh dihadapannya? Apakah dia bahagia atau justru menggerutu melihatmu? Atau mungkin dua acuh padamu?
Kau tau apa yang membuatku bahagia saat kau datang? Bukan, bukan karena kenangan atau alasan yang sering orang lontarkan saat kau datang. Tapi, karena aku suka mendengarmu bernyanyi dan kau menceritakan tentang orang - orang yang terkadang membencimu, menyukaimu, membuatmu menjadi alasan dan bahkan menyalahkanmu. Termasuk dia yang mungkin bahagia saat kau datang atau bahkan dia akan benci, menjadikanmu sebuah alasan dan bahkan menyalahkanmu. Aku mingkin tidak tau tapi kau pasti tau apa yang dia rasakan tentang kamu saat ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar